<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766</id><updated>2011-04-22T06:36:05.367+07:00</updated><category term='Islam'/><category term='agama'/><category term='Sejarah'/><category term='Buku'/><category term='Resensi'/><category term='Film'/><category term='Event Kalender'/><category term='Politik'/><category term='Refleksi'/><category term='Kebudayaan'/><category term='sosial'/><title type='text'>solosociety</title><subtitle type='html'>sebuah klub studi. kami lahir dari jiwa-jiwa yang resah. mencoba menggali hidup lebih baik... mari bergabung bersama kami</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-7099295238357126703</id><published>2008-07-16T16:08:00.002+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:09.053+07:00</updated><title type='text'>Irshad Manji Menggugat Gender dan Homoseksualitas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SH268DTZ0OI/AAAAAAAAAEY/o_HBCDW5Drg/s1600-h/Irshad.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SH268DTZ0OI/AAAAAAAAAEY/o_HBCDW5Drg/s200/Irshad.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223536683661250786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Irshad Manji,  seorang feminis muslim yang dengan terang-terangan mengaku lesbian. Ia meneriakkan protes keras terhadap pelanggaran atas nama Islam di kalangan perempuan dan kelompok minoritas—termasuk kelompok homoseks.  &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Di mata kalangan Islam fundamental, Irshad Manji&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, perempuan berumur empat puluhan ini tak lebih dari seorang provokator yang menyebarkan tafsir setan atas Al Qur'an. Melalui buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini” Irshad melakukan protes keras atas ketidakadilan atas nama agama. Ia melakukan kritik keras penafsiran terhadap Al Qur'an yang sedikit memberikan ruang kebebasan kepada perempuan dan kelompok minoritas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam buku tersebut, Irshad mangaku sebagai seorang muslim Refusenik. Ia memilih ungkapan itu sebagai bentuk pilihan sikap. Feminis yang lahir di Uganda ini memilih bersikap tidak mau menjadi “robot” yang dengan mudah dimobilisasi untuk melakukan tindakan atas nama agama. Sebagai perempuan yang dilahirkan dalam keluarga Islam, Irshad Manji menemui banyak diskriminasi terhadap perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika kecil, Irshad mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan ketika menuntut ilmu di Madrasah. Pengalaman yang jauh berbeda menurutnya jika dibandingkan ketika berada di Gereja atau di tempat ia menuntut ilmu di junior schools. Di madrasah, demi menjadi seorang perempuan muslim, Irshad harus menanggalkan identitas dirinya sebagai pemikir. Karena sikap kritisnya yang selalu mempertanyakan Islam, Irshad bahkan diusir keluar dari madrasah.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hidup di keluarga Islam dengan superioritas seorang Ayah, Irshad tumbuh menjadi gadis yang tidak memimpikan laki-laki. Dididik dalam keluarga dimana perempuan diperlakukan dengan banyak hal yang pedih karena kekuasaan Ayah yang sewenang-wenang, Irshad tidak menolak hubungan cinta sesama. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pada usia duapuluh tahun, Irshad menemukan kekasih pertamanya. Ia kemudian secara terbuka menyatakan dirinya sebagai seorang lesbian.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keberanian Irshad bukan tanpa alasan. Menurutnya, tidak ada masalah ketika ia membuka statusnya sebagai seorang muslim yang lesbian. Muslim adalah agama dan menemukan pasangan lesbian adalah kebahagian. Tidak ada diantaranya yang saling bertentangan.dalam perjalanan hidupnya, Irshad berupaya melakukan rekonsiliasi homoseksualitas dengan Islam. Ia melakukan introspeksi hingga ia nyaris keluar dari Islam meskipun hal tersebut tidak jadi dilaksanakannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Memasuki usia duapuluhan, dalam proses pencarian jati dirinya, Irshad menekuni kegiatannya sebagai seorang wartawan. Irshad pada tahun 1998 bahkan memandu sebuah acara TV dan Internet bernama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Queer Television &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yang mengupas budaya gay dan lesbian. Acara tersebut secara terbuka mengundang caci maki baik dari kalangan Islam Fundamentalis. Seringkali Irshad mendapatkan kiriman surat yang berisi kebencian dan kemarahan bahkan ancaman akan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dibunuh. Padahal dalam Al Qur’an tegas dinyatakan, “Allah membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan,” termasuk di dalamnya demikian dalih Irshad menjawab ancaman tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Menurut Irshad, Islam menjadi bencana bagi kaum homoseksualitas. Secara tidak langsung, Irshad men&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;yatakan hal tersebut terjadi karena para ahli kitab kebanyakan memahami ayat-ayat homoseksualitas dengan perspektif bias heteronormativitas. Akibatnya, kaum homoseks yang terdiri dari Gay dan Lesbian diposisikan sebagai kelompok yang menyimpang dan menjadi akar konflik dalam pelaksanaan agama. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tidak hanya bersimpati kepada homoseksualitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dimana ia menjadi bagian di dalamnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Irshad juga menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan atas nama agama. Ia melihat, di hampir semua negara muslim, kekerasan terhadap perempuan marak terjadi. Di Pakistan, setiap hari rata-rata dua perempuan mati akibat pembunuhan atas nama kehormatan.  Di Tunisia dan di Aljazair, perempuan muslim tidak bisa secara hukum menikah dengan laki-laki non muslim, namun laki-laki bebas menentukan pilihan.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Bahkan, di Arab Saudi, kaum perempuan yang berjumlah lima puluh tujuh persen dari penduduk dianggap sebagai kaum minor selama-lamanya. Hukum sangat tidak memihak kepada perempuan. Sebagai bukti, kaum perempuan di Arab tidak boleh hadir di pengadilan bahkan ketika dia dituduh membunuh. Bentuk kepatuhan hukum dan diskriminasi kepada perempuan pada Maret 2002 mengakibatkan limabelas siswa perempuan tewas dalam kebakaran. Penyebabnya sederhana, siswa yang telah lolos dari jilatan lidah api justru dipaksa masuk ke kobaran api hanya karena tidak mengenakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;abaya &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;(pakaian yang membungkus seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Irshad Manji, tribalisme gurun pasir serta paternalisme suku padang pasir menjadi biang kerok diskriminasi terhadap perempuan. Dalam karakter Islam padang pasir, kekerasan dan pemerkosaan atas nama agamas sering terjadi. Akibatnya, Dalam menjalankan ajaran Islam, sulit dibedakan mana keadilan (justice) dan pembenaran (justifikasi). Meningkatnya totalitarianisme Islam dan tidak terkendalinya politik di kawasan timur Tengah menjadi bukti. Meskipun banyak umat Islam yang berbicara lantang menolak kesewang-wenangan atas nama Islam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mereka berpatokan pada Al Qur’an yang menyatakan bahwa “laki-laki dapat berkuasa atas perempuan karena mereka ‘memberikan nafkah dari hartanya”. Ayat tersebut bahkan dalam perjalanan sejarahnya pada tahun 1990 mampu mempengaruhi Deklarasi Kairo tentang Hak Asasi Manusia yang didukung oleh negara muslim. Ayat Al Qur’an yang lain menyebutkan, “istrimu adalah ladang bagimu. maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kau sukai”. Padahal, ada ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa “suami bertanggungjawab atas kebutuhan dan kesejahteraan keluarga”. Menurut Irshad, Islam sebagai agama yang flexibel harusnya beradaptasi untuk hal yang baik, bukan hal yang buruk. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Irshad mengutip pendapat Ibnu Rusyd tentang kesetaraan gender. Dalam pandangan Ibnu Rusyd “kemampuan perempuan tidak dikenali karena mereka diturunkan derajatnya dengan hanya untuk mengurusi protekrasi, membesarkan anak dan menyusui. Irshad sependapat dengan Ibn Rusyd bahwa memperlakukan perempuan sebagai beban kaum laki-laki, menjadi penyebab munculnya kemiskinan. Hal itu yang menjadi bukti betapa negara-negara di Timur Tengah berada dalam garis kemiskinan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Meskipun banyak ketidak beresan yang diakibatkan karena penafsiran terhadap Islam, namun Islam bukan masalah. Bahkan dalam sistem pemerintahan, Islam tidak merekomendasikan bentuk tertentu pemerintahan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Menurut Irshad Manji, Islam setidaknya menjadi alat pemersatu karena secara tidak langsung ada anggapan umat bahwa yang mempersatukan mereka adalah iman dan Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam bukunya ini, Irshad melihat musuh yang dihadapi oleh Islam adalah berasal dari kalangan mereka sendiri. Pasca runtuhnya menara kembar WTC, umat Islam hidup dalam kebohongan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;dengan menyatakan bahwa Islam dibajak. Mereka tidak mengakui adanya masalah dalam Islam dan justru membangun romantisme dan bukan refleksi. Umat Islam justru memupuk kebencian terhadap Amerika atau Barat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Umat Islam harus menyadari tantang yang dihadapi. Kita bisa belajar banyak dari sejarah runtuhnya Islam di Spanyol. Pada waktu itu, Islam bukan hancur karena pasukan Kristen tetapi karena ulah Islam sendiri. Biang keladi yang paling bertanggungjawab dalam menggerus kaum muslim adalah umat Islam sendiri. Kaum muslim memaksakan hukum perang dan saling menghancurkan kebebasan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Menurut Irshad Manji dalam bukunya ini, untuk menyelamatkan Islam, ada tiga cara yang harus dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; memberikan tantangan kepada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;bekerjasama dengan barat  dan bukan melawannya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pemikiran Irshad ditopang dengan adanya laporan laporan tahun 2002, dalam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Arab Human Development Report&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;. PBB menegur pemerintah Arab karena mengabaikan energi dari perempuan yang jumlahnya setengah penduduk. Pemberdayaan perempuan menjadi defisit yang diangkat dalam laporan tersebut selain defisit dalam pengetahuan dan kebebasan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Selain itu, pemikiran itu juga didukung oleh analisis bahwa; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; perdagangan selalu membantu melumasi roda hubungan, baik antara kaum muslim, Yahudi maupun Kristen. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;tidak ada larangan bagi perempuan untuk berbisnis. Menurut Irshad Manji, Kapitalisme yang sadar akan Tuhan serta ditopang oleh peran perempuan mungkin bisa menjadi jalan untuk memulai reformasi terhadap Islam. Tahap yang penting untuk dilakukan adalah melakukan operasi ijtihad dengan memberdayakan lebih banyak perempuan muslim untuk menjadi wirausahawan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam operasi ijtihad, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Irshad memberi contoh dengan mengutip &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;No-Nonsense Guide to International Development. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; “Dari satu juta orang, tiga perempatnya perempuan telah menerima pinjaman mikro di lebih dari empat puluh negara sejak bank Grameen dibuka. Contoh lain, pinjaman mikro Muhammad Yunus untuk memberdayakan perempuan di Bangladesh hingga Chichago. Irshad dalam buku ini juga menganjurkan kepada umat Islam untuk berlaku jujur. Dalam bab terakhir, disebutkan bahwa untuk kepentingan perkembangan Islam umat Islam harus berterimakasih kepada kebudayaan barat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Namun, yang penting dikuak dalam buku ini adalah h&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;asil dari eksplorasi dan interpretasi terhadap Al Qur’an oleh Irshad Manji yaitu; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; hanya Tuhan yang sebenarnya tahu kebenaran dari segala hal. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;, hanya Tuhan yang bisa menghukum orang yang tak beriman. Ketiga kesadaran kita membebaskan diri untuk merenung kehendak Tuhan tanpa kewajiban apa-pun untuk tunduk pada tekanan dan prinsip atau paham tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.2cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak salah dengan keberanian Irshad untuk melakukan kritik terhadap Islam, ia mendapat ditasbihkan sebagai satu dari tiga muslimah yang menciptakan perubahan positif dalam Islam. Buku ini bahkan kemudian diterbitkan di tigapuluh negara dan meraih The International Bestseller dan The Nweyork Times Bestseller. Buku ini menjadi bacaan yang menarik bagi anda yang ingin mengetahui tentang persoalan kekerasan terhadap perempuan serta homoseksualitas. Hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi umat Islam dewasa ini.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-7099295238357126703?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/7099295238357126703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=7099295238357126703' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7099295238357126703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7099295238357126703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/07/irshad-manji-menggugat-gender-dan.html' title='Irshad Manji Menggugat Gender dan Homoseksualitas'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SH268DTZ0OI/AAAAAAAAAEY/o_HBCDW5Drg/s72-c/Irshad.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-5055376887500757362</id><published>2008-07-14T15:50:00.002+07:00</published><updated>2008-07-14T15:56:22.179+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>ISLAM DAN SEMANGAT ANTIKEKERASAN</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Syahdan suatu ketika Nabi dirundung kesedihan luar biasa ketika paman sekaligus pelindungnya di Mekkah, Abu Thalib meninggal dunia. Kesedihan tersebut merupakan kesedihan lanjutan, setelah sebelumnya, Khadijah—istri tercintanya juga meninggal dunia. Abu Thalib merupakan pelindung Nabi dari ancaman kaum kafir Qurays. Dan sepeninggal pamannya itu, praktis tidak ada lagi ”orang kuat” yang dapat melindungi Nabi dalam menyiarkan Islam di Mekkah. Terlebih jabatan ketua klan Bani Hasyim pasca-Abu Thalib, adalah Abu Lahab, seorang yang paling getol memusuhi Nabi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Melalui beberapa ancaman yang dilakukan Abu Lahab dan gerombolannya, Nabi akhirnya melarikan diri dan bahkan menyingkir hingga ke sudut kota Thaif—sebuah kota kecil di utara Mekkah yang subur. Nabi bermaksud meminta bantuan keluarga Tsaqif—”juru kunci” kuil &lt;i style=""&gt;al-Lata&lt;/i&gt; di kota Thaif, sekaligus menyadarkannya supaya masuk Islam. Namun, permintaan Nabi tersebut ditolak. Bahkan keluarga Tsaqif memerintahkan budak-budaknya untuk mengejar dan membunuh Nabi. Dengan kondisi tubuh penuh luka dan berdarah-darah karena dilempari batu oleh para pengejarnya, dan merasa sudah tidak ada orang lagi yang akan bisa menolongnya, Nabi kemudian berdoa kepada Allah memohon pertolongan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Doa Nabi kemudian menembus langit-mengguncang &lt;i style=""&gt;Arasy&lt;/i&gt;, tempat para Malaikat berkumpul. Malaikat Jibril pun memimpin ”pasukan” Malaikat menemui Nabi dan menawarkan bantuan: &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;“Wahai Nabi, jika engkau meminta kami mencabut gunung-gunung, lalu ditimpakan kepada para kaum Thaif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang kurang ajar itu, kami akan lakukan”. Nabi SAW dengan santun menjawab: “Bahkan jika mereka tidak mau beriman dan taat kepada Tuhan, aku masih tetap berharap akan ada anak-anak dan cucu-cucu mereka yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan saja mereka, karena mereka memang orang-orang yang tidak tahu.” '&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;Allahumma ihdi qawmi fa innahum la ya'lamun'&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; (Wahai Tuhan, berilah petunjuk kepada mereka, karena mereka tidak tahu)," demikian doa Nabi kala itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="FI"&gt;Demikianlah secuil kisah inspiratif yang bisa menggugah batin kita. Nabi—dengan segala kesabarannya telah menunjukkan kepada kita bahwa berdakwah dengan tanpa kekerasan adalah prinsip utama dalam Islam. Bahkan ketika posisi Nabi yang sangat terdesak seperti cerita di atas, Nabi tetap ”berkepala dingin”, tidak mau menggunakan ”pasukan” malaikatnya berbuat kekerasan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="FI"&gt;Kisah di atas tentu sangat kontras apabila kita kaitkan dengan realitas-realitas sekarang ini. Realitas ketika—atas nama agama, sekelompok teroris dengan ”dinginnya” meledakkan sebuah pesawat terbang, tempat hiburan, dan banyak fasilitas umum. Realitas ketika—atas nama agama juga, sekelompok umat mayoritas membumihanguskan tempat tinggal dan rumah ibadah umat lain yang kebetulan berbeda dan minoritas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="FI"&gt;Realitas-realitas kekerasan semacam ini kemudian membuat kita berpikir kembali tentang fungsi agama secara fundamental. Fungsi agama yang seharusnya memberikan ketenteraman, kedamaian, dan ketertiban, justru terlihat berubah sama sekali. Agama terlihat ”berparas” menakutkan. Penuh dengan darah dan air mata. Agama—bahkan tidak lagi sesuai dengan visi etimologisnya yang paling fundamental yakni &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="FI"&gt;: tidak/tanpa, dan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;gama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;" lang="FI"&gt;: yang berarti kekacauan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Islam yang Selalu Menebar Perdamaian bagi Semesta&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagimana dengan Islam? Citra Islam dalam satu dasawarsa terakhir ini memang sedikit banyak dilumuri oleh “kekerasan” dan “tindak teror”. Citra seperti ini, menurut saya, adalah akibat tindak tanduk sebagian kecil penganut Islam yang masih saja berlaku “radikal”, masih menggunakan cara-cara kekerasan seperti di atas untuk menghadapi “yang lain”. Meskipun, tentu saja saya tak boleh menyederhanakan permasalahan, tentang penyebab-penyebab serta pemicu munculnya tindak kekerasan yang membabi buta tersebut. Namun pada prinsipnya bagi saya, Islam tidaklah seperti itu. Islam merupakan agama yang selalu memancarkan sinar-sinar kasih sayang dan perdamaian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Secara etimologis, Islam berasal dari bahasa Arab &lt;i style=""&gt;aslama- yuslimu islam&lt;/i&gt; yang berarti menyelamatkan, menyerahkan diri, tunduk dan patuh. Sebagian ahli bahasa menyebutkan bahwa Islam berasal dari akar kata &lt;i style=""&gt;silm&lt;/i&gt; yang mengandung arti selamat, sejahtera dan damai. Kedua pendapat ini, menurut saya, mempunyai hubungan pengertian yang mendasar yaitu penyerahan diri kepada Yang Maha Pencipta karena adanya tujuan untuk memperoleh kedamaian. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Islam yang muncul sebagai agama paling “bungsu” diantara agama-agama &lt;i style=""&gt;samawi &lt;/i&gt;sebelumnya kemudian mendeklarasikan ”kredo” agamanya yang terkenal, yaitu agama yang &lt;i style=""&gt;rahmatan lil alamin&lt;/i&gt;, agama yang merupakan rahmat bagi seluruh alam ini. Dengan “platform” ini, agama Islam jelas-jelas ingin membawa “berkah” bukan hanya bagi internal umat Islam, namun juga ingin memancarkan rahmatnya bagi seluruh umat agama lain—semua manusia, bahkan untuk keseluruhan alam ini. Semangat kasih sayang yang luar biasa seperti inilah yang harus disadari oleh kita umat muslim sepenuhnya. Hingga kemudian, kehadiran Islam di bumi ini, bukanlah menjadi suatu ancaman bagi “yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lain”, melainkan menjadi “sesuatu” yang dapat menginspirasikan adanya persaudaraan dan perdamaian antarsesama makhluk Tuhan. Sesuatu yang benar-benar bisa membuat setiap makhluk di bumi ini merasa nyaman dan aman, ketika berhadap-hadapan maupun menjumpainya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pesona &lt;i style=""&gt;al Rahman&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;al Rahim&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Platform Islam ini kemudian amat pararel dengan sifat-sifat Tuhan yang paling populer disebut makhluknya, yakni &lt;i style=""&gt;al Rahman&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;al Rahim&lt;/i&gt;. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sering kita membaca kedua sifat Tuhan ini dalam &lt;i style=""&gt;basmalah&lt;/i&gt; tanpa menyadari spirit hakikinya. &lt;i style=""&gt;Al Rahman&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;al Rahim&lt;/i&gt; adalah sifat Tuhan yang bermakna Yang Maha Pengasih dan Penyayang (Welas Asih)—dunia akhirat. Sifat ini ditujukan kepada manusia, baik itu muslim ataupun non-muslim, bahkan kepada hewan, tumbuhan dan seluruh isi alam ini. Sifat Maha Welas Asih ini begitu murni memancar ke semua makhluknya tersebut tanpa diskriminasi. Orang muslim boleh menikmati fasilitas sinar matahari, menikmati segarnya udara dan air, menggunakan akal pikirannya untuk kehidupan yang lebih baik, dan boleh menginjakkan kakinya untuk melangsungkan hidupnya di dunia ini, begitupun pula dengan orang-orang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;non-muslim lain. Segala makhluk berhak dan butuh kepada pancaran kasih sayang Tuhan ini. Tidak ada diskriminasi, tidak ada pengecualian. Sifat yang mulia inilah yang harusnya memancar ke dalam kalbu setiap manusia. Sifat yang selalu berwelas asih kepada sesamanya tanpa bersikap diskriminatif apalagi fasis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mengenai problem perbedaan mazhab, keyakinan, agama, atau kepercayaan, itu adalah urusan lain. Tuhan Yang Maha Benar, akan “menyelesaikan” masalah ini secara tuntas di akhirat nanti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Emanasi sifat &lt;i style=""&gt;al Rahman&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;al Rahim&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sifat &lt;i style=""&gt;al Rahman &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;al Rahim&lt;/i&gt; dari Tuhan ini terlihat begitu memesona hingga kemudian “diadopsi” oleh beberapa orang hebat dalam sejarah dunia. Contoh yang sangat pasti tentu saja Nabi Muhammad sendiri. Sastrawan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sufi Syaikh Jalaluddin Rumi juga “mereferensi” sifat Tuhan ini. Banyak syair-syair buatannya memancarkan spirit cinta dan kebersamaan yang begitu mendalam antarsesama manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Namun yang saya amati kemudian, ternyata banyak tokoh bijak dalam sejarah manusia, yang non-muslim, yang berhasil “menangkap” sifat mulia Tuhan ini dan kemudian menyebarkannya ke masyarakat sekitarnya sebagai simbol perjuangan untuk perdamaian dan kemuliaan kemanusiaan. &lt;/span&gt;Tokoh seperti Gandhi adalah contoh yang baik dalam hal ini. Tokoh spiritual Hindu ini berhasil mengadopsi sifat Tuhan tersebut melalui semangat perjuangannya yang masyhur, yaitu &lt;i style=""&gt;ahimsa&lt;/i&gt; (tanpa kekerasan), dan &lt;i style=""&gt;satyagraha &lt;/i&gt;(selalu membela kebenaran). &lt;span style="" lang="FI"&gt;Perjuangan Gandhi ini kemudian meninspirasikan jutaan manusia lain untuk melawan ketidakadilan dan penindasan kemanusiaan di seluruh dunia dengan tanpa kekerasan. Tercatat orang seperti Nelson Mandela kemudian “mengambil berkah” semangat Gandhi ini untuk menentang rezim Apertheid di Afrika Selatan, dan usahanya tersebut berhasil dengan gemilang. Semangat Gandhi ini juga menyebar hingga ke Amerika Serikat pada tahun 1960-an melalui tokohnya yang terkenal yaitu Martin Luther King Jr dalam perjuangannya melawan diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selain terhadap Gandhi, sifat Tuhan ini juga merasuk ke sanubari sejumlah tokoh terkenal lain yang berdedikasi tinggi terhadap perdamaian dan kemanusiaan di dunia. Kita melihat Bunda Theresa, seorang biarawati Katholik, yang bersedia meninggalkan gereja dan asramanya untuk turun langsung menolong sesama manusia yang sakit dan miskin di India. Dia merawat ribuan penderita kusta, mengajari anak-anak yang buta huruf, menyelamatkan banyak nyawa, hingga namanya begitu harum dihormati seluruh manusia di bumi ini hingga sekarang. Kita juga melihat seorang Muhamad Yunus yang mencetuskan ide sistem kredit yang teramat lunak kepada ribuan warga miskin di Bangladesh—tanpa melihat latar belakang agama, suku, dan ras mereka, sehingga menolong mereka dari jeratan “kekerasan” kehidupan, yakni kemiskinan yang berlarut-larut. Dan yang paling mutakhir adalah Al Gore, seorang cendekiawan dan politikus asal Amerika Serikat yang mengkampanyekan bahaya pemanasan global, hingga menggugah kesadaran seluruh warga dunia untuk kemudian “bersikap arif” terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tokoh-tokoh hebat di atas, saya anggap berhasil menerjemahkan sifat mulia Tuhan ini dengan arif dan kreatif. &lt;/span&gt;Apa yang telah dilakukan mereka—tokoh-tokoh hebat itu, terlihat “sangat islami”—meskipun dengan tanpa mencoba “memformalkannya”. Dan pastinya, segala perjuangan mereka tentu akan menjadi inspirasi dan referensi abadi bagi perjuangan perdamaian dan kemanusiaan di muka bumi ini, di masa kini dan mendatang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semangat Perdamaian dalam Shalat&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Platform Islam &lt;i style=""&gt;rahmatan lil alamin&lt;/i&gt; dan sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang ini kemudian juga termanifestasikan lagi dalam ritual Islam yang paling fundamental, yaitu shalat. Dalam ritual yang kita lakukan minimal &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kali sehari ini, terdapat doa yang akan membuat kita selalu rendah hati yaitu &lt;i style=""&gt;Ihdina al shiraathal mustaqim&lt;/i&gt; ”tunjukkanlah kepada kami pada jalan yang lurus”. Doa yang terdapat di surat &lt;i style=""&gt;al Fatihah&lt;/i&gt; ini bahkan wajib kita ucapkan 17 kali sehari sebagai perwujudan betapa kita selalu ingin dan mengharapkan petunjuk ”jalan yang lurus” kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Suatu sikap rendah hati yang mencerminkan keberadaan kita yang belum tentu sudah ”lurus” selurus lurusnya, atau sudah ”benar” sebenar-benarnya. Keberadaan kita sebagai makhluk yang memang (sudah memeluk) Islam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;namun tetap senantiasa butuh petunjuk Tuhan dengan tanpa ”menuding” makhluk lain—yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;”berbeda”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai ”yang sesat” dan ”harus dimusnahkan”. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Doa ini kemudian diperindah dengan rukun shalat yang terakhir, yakni &lt;i style=""&gt;salam&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;Dalam &lt;i style=""&gt;salam&lt;/i&gt;, kita memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan &lt;i style=""&gt;assalamualaikum warahmatullah.&lt;/i&gt; Sebuah simbol bahwa seorang muslim yang baik, harus selalu menebar kedamaian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada sekitarnya. Sebuah &lt;i style=""&gt;ending&lt;/i&gt; ritual yang begitu menyejukkan hati. &lt;i style=""&gt;Salam&lt;/i&gt; merupakan manifestasi muslim bagi perdamaian untuk semesta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Walhasil, kehadiran Islam di dunia, sebenarnya adalah ingin menebar benih perdamaian untuk menuai kemaslahatan semesta. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukan memelihara kekerasan dan perusakan. Sebuah cita-cita yang tentu akan di-&lt;i style=""&gt;amin&lt;/i&gt;-i oleh seluruh muslim di muka bumi ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Taxin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jakarta, 13 Juli 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-5055376887500757362?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/5055376887500757362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=5055376887500757362' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/5055376887500757362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/5055376887500757362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/07/islam-dan-semangat-antikekerasan.html' title='ISLAM DAN SEMANGAT ANTIKEKERASAN'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-7219165452573366528</id><published>2008-07-04T14:33:00.003+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:09.444+07:00</updated><title type='text'>Menyentuh Hati lewat Cinta (Monyet)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SG3TPyL13II/AAAAAAAAAEQ/DAx1jdEADL0/s1600-h/418808108_1f22abd886.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SG3TPyL13II/AAAAAAAAAEQ/DAx1jdEADL0/s200/418808108_1f22abd886.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219059811315211394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SG3TGFihsSI/AAAAAAAAAEI/TQGcT8ZZH6A/s1600-h/418808114_f69b01f83f.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SG3TGFihsSI/AAAAAAAAAEI/TQGcT8ZZH6A/s200/418808114_f69b01f83f.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219059644711940386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Review atas Film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mukhsin&lt;/span&gt; karya Yasmin Ahmad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mukhsin&lt;/span&gt; merupakan film Malaysia pertama yang saya tonton. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Cukup ironis memang, melihat Malaysia yang merupakan “saudara” serumpun Indonesia yang letak geografisnya paling dekat, ternyata tidak menjamin “lalu lintas” perfilman di dua negara ini menjadi lancar. Saya pikir, hal ini tentu berhubungan dengan monopoli distribusi perfilman di kedua negeri ini yang dikuasai 21 yang umumnya menampilkan film-film &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Hollywood&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Yang saya akrabi tentang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dalam soal film selama ini hanyalah dalam hal subtitle-nya yang sering saya jumpai di DVD-DVD film orba (ori tapi bajakan). Dalam subtitle Malay tersebut, istilah-istilah Melayu seperti “Pak Cik”, “pusing-pusing”,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan lain-lainnya cukup populer, dan kadang malah menjadi sumber “lelucon” linguistik secara pragmatis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Saya beruntung bisa “menemukan” film Mukhsin ini dari sebuah rental DVD film-film festival di kawasan Tebet dan kemudian menontonnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada Jiffest 2007 lalu, sebetulnya film ini pernah ikut diputar di seksi pemutaran film-film Asia Tenggara. Namun karena suatu hal, saya tidak berhasil menontonnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mukhsin (2007) merupakan film terakhir dari trilogy Orked. Dua film sebelumnya adalah Sepet (2004) dan Gubra (2006). Sengaja saya menonton Mukhsin terlebih dahulu, karena “termakan” persuasi “guider” rental DVD nya, yang menerangkan tentang “alur” hidup tokoh utamanya di trilogy itu, yakni Orked. “Di Mukhsin, Orked masih kecil, sedang di Sepet dan Gubra, Orked telah dewasa”, demikian penjelasan guider. Saya kemudian “mengikuti petunjuk” sang guider, dan lalu mencomot Mukhsin untuk saya bawa pulang dan kemudian saya tonton. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Film ini menceritakan kisah cinta pertama Orked (10 tahun) dan Mukhsin (12 tahun). Pada adegan pertama diceritakan Orked (10 tahun) yang secara “personal” diberi tugas gurunya untuk membuat karangan cerita selama liburan sekolah yang sudah di depan mata. Orked menerima tugas itu dengan lapang dada meski dia sendirian yang diberi tugas sementara temen-temannya lain tidak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Orked-pun pulang ke rumah dan berencana menghabiskan liburannya di kampungnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di adegan-adegan selanjutnya diperlihatkan sosok Orked yang kelihatan tomboy. Orked ogah ketika diajak main pengantin-pengantinan bersama teman-teman perempuannya, dan lebih memilih bermain dengan temen-teman lelakinya. Di sinilah kemudian Orked berkenalan dengan Mukhsin (12 tahun), teman sepermainannya yang merupakan “orang baru” di kampungnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mukhsin berasal dari keluarga berantakan dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memilih tinggal bersama bibinya di kampung tersebut. Jalinan persahabatan antara Orked dan Mukhsin berkembang akrab. Mukhsin pun terlihat dekat dengan Orked dan keluarganya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sering Mukhsin diajak nonton bola bersama keluarga Orked. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Melalui kedekatan yang akrab, tak terasa benih-benih cinta pun muncul di antara kedua insan kecil itu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Benih cinta yang sederhana. Yang merupakan sesuatu yang ”orisinal” dan pertama dialami oleh keduanya, yaitu cinta pertama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keduanya pun “bergaya pacaran” dengan mesranya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;Mukhsin memboncengkan Orked di sepeda bututnya keliling kampung. Duduk “bahagia” berdua di sebatang pohon yang berhasil mereka panjat. Dan bermain layang-layang berdua di persawahan hijau. Pengambilan gambar di adegan-adegan ini sering dibuat statis. Lanskap-lanskap bersetting kampung seperti pepohonan rindang, hamparan sawah yang menguning, dan jalan-jalan setapak kampung terlihat tampak elok terlihat. Sutradara kayaknya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ingin mengoptimalkan ”suasana” yang terbangun dan akting kedua bocah kecil ini yang natural. Patut dicatat--- menurut keterangan yang saya dapat—pemeran Orked (Syarifah Aryana) dan Mukhsin (Mohd. Syafei Naswip) adalah ”orang biasa”, yang belum mempunyai pengalaman main film sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Hubungan mesra Orked dan Mukhsin kemudian retak, setelah terjadi insiden pertengkaran kecil di antara keduanya. Orked ngambek, dan tidak mau menemui Mukhsin lagi. Mukhsin dengan segala usahanya mencoba menemui Orked, namun tidak pernah berhasil bahkan hingga kepergiannya dari kampung tersebut karena dijemput ayah kandungnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Secara umum film ini cukup jujur mengeluarkan “perasaan” sutradara dan penulis ceritanya yang kebetulan sama yaitu Yasmin Ahmad. Yasmin tampaknya cukup los mengeluarkan segala imaji-imajinya dalam bentuk dialog-dialog, cerita dan gambar-gambar yang indah di film ini. Lihatlah ”tampilan” keluarga Orked yang ”unik”. Lihatlah dialog kecil Mukhsin dan Orked ketika mereka berpacaran di sepeda butut Mukhsin. Juga s&lt;i style=""&gt;cene &lt;/i&gt;ketika Kak Yam (pembantu rumah tangga keluarga Orked—diperankan dengan bagus sekali oleh Adibah Noor) ”ngerjain” Mak Inom (Ibu Orked) saat dialog kecil soal Nina Simone—penyanyi lagu &lt;i&gt;Ne Me Quitte Pas (Don’t Leave Me&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt; yang juga menjadi soundtrack film ini. Lihatlah pula adegan terakhir film ini ketika Orked (dengan suara telah dewasa) membacakan sebuah puisi lama karya penyair Polandia- Wislawa Szymborska yang begitu menyentuh hati, untuk mengenang keagungan cinta pertamanya itu. Berikut bait puisinya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;The minute I herad my first love story&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;I started looking for you&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Not knowing how blind that was&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Lovers don’t finally meet somewhere&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;They’re in each other all along&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dan menurut saya, yang paling ”kuat” dalam film ini adalah tata-musiknya. Film ini merupakan salah satu film yang cukup berhasil menyajikan &lt;i style=""&gt;score&lt;/i&gt; yang “akan selalu diingat” penontonnya (terutama untuk penonton &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;). Apa pasal? Dalam film ini, Yasmin menampilkan lagu keroncong (yang tentu sangat khas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;). Saya sendiri cukup terkejut dengan munculnya lagu keroncong di film ini. Saya pikir, keroncong—seperti halnya dangdut, adalah musik khas &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan hanya ada di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, tapi ternyata di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, musik keroncong juga ada. Lagu ini berjudul &lt;i style=""&gt;Keroncong Hujan&lt;/i&gt;. Muncul &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di awal dan akhir film. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pada kemunculannya di awal film, lagu ini dimainkan secara “unplugged” oleh Pak Atan (ayah Orked) dan teman-temannya di depan rumah, “diiringi” adegan Orked yang menari lepas bersama Mak Inom (Ibunya) di halaman rumahnya ketika kemudian gerimis air hujan turun ke bumi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Lagu ini kemudian muncul kembali di akhir film. Memaksa penonton untuk ikut tersenyum “bahagia” menyaksikan adegan “kebersamaan”para kru film plus Yasmin sendiri, berkumpul di tengah-tengah Pak Atan (asli) yang memainkan piano dan Mak Inom (asli) yang bertindak sebagai vokalis untuk menyanyikan sebuah lagu yang mencerminkan keagungan Tuhan dan rasa syukur atas indahnya kebersamaan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Berikut lirik lagu &lt;i style=""&gt;Keroncong Hujan&lt;/i&gt;—yang setelah saya selesai nonton film ini, masih saja terngiang-ngiang di benak saya. Lirik lagu yang membikin saya merasa “fly”…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Mega mendung di angkasa&lt;br /&gt;Hembusan bayu dingin terasa&lt;br /&gt;gerimis berderai di merata&lt;br /&gt;bagai mutiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat dibawa bersama&lt;br /&gt;Limpahannya meresap dijiwa&lt;br /&gt;adakala bahgia terasa&lt;br /&gt;meskipun duka nestapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tika hujan turun&lt;br /&gt;sayup mendayu lagu keroncong&lt;br /&gt;merdu irama dialun&lt;br /&gt;bersenandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan membasahi bumi&lt;br /&gt;melahirkan keluhuran budi&lt;br /&gt;mengeratkan perpaduan suci&lt;br /&gt;kasih sayang abadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Everyone has a first love story to tell”, demikianlah kalimat prolog di trailer film ini. Kalimat yang membuat saya terbawa kembali ke masa lalu ‘tuk bernostalgia ke masa ABG saya—mengenang “my first love” yang selalu membuat dada saya berdebar-debar, bukan karena sakit “jantungan”, namun karena sentuhan kelembutan cinta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;Taxin&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Juli 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-7219165452573366528?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/7219165452573366528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=7219165452573366528' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7219165452573366528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7219165452573366528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/07/menyentuh-hati-lewat-cinta-monyet.html' title='Menyentuh Hati lewat Cinta (Monyet)'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SG3TPyL13II/AAAAAAAAAEQ/DAx1jdEADL0/s72-c/418808108_1f22abd886.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-8708180817334634007</id><published>2008-06-02T10:36:00.002+07:00</published><updated>2008-06-02T10:40:06.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Ketika Minyak Menentukan Semua Keputusan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pengumuman kenaikan harga BBM oleh pemerintah pada 24 Mei 2008 ternyata masih menyisakan permasalahan dan kontra hingga sekarang. Berbagai daerah dan lapisan masyarakat seolah tak henti-hentinya memberikan komentar yang miring terhadap pemerintah saat ini. Betapa tidak, sejak SBY-JK berkuasa setidaknya 3 kali BBM (bahan bakar minyak) naik secara signifikan. Naiknya harga BBM dalam negeri dipicu harga minyak di pasaran internasional yang secara psikologis sangat dahsyat. Dampak dari kebijakan ini menurut bebeberapa pihak telah melahirkan masyaraklt miskin baru di Indonesia yang jumlahnya  ternyata sangat fantastis. Komentar-komentar pro dan kontra semakin memperkeruh suasana yang “panik” dimasyarakat. Pemerintah ternyata juga tidak tinggal diam terhadap semua kritikan tersebut. Segala cara ditempuh pemerintah untuk mengkounter wacana negatif yang berkembang. Statemen-statemen pejabat silih berganti menghiasi televisi kita tiap harinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pemerintah punya dalih bahwa kenaikan harga BBM ini adalah satu-satunya solusi untuk mengurangi defisit APBN akibat beban subsidi yang tersedot. Selain itu melaui jubir pemerintah, saat ini pemrintah akan mengubah paradig selama ini dari subsidi barang mengjadi subsidi manusia. “bukan barang yang kita subsidi tapi orang miskin yang akan kita subsidi.” Pengurangan subsidi BBM akan dialihkan untuk penguatan ekonomi masyarakat miskin, ancang-ancang kebijakan pemerintah untuk menghadapi gelombang protes ini adalah penggelondoran BLT (bantuan langsung tunai) kepada masyarakat miskin, dan aneka kebijakan yang pro masyarakat miskin lainnya. Selain itu pemerintah juga mengajak masyarakat miskin khususnya yang menerima BLT untuk membantu pemerintah dalam upaya meredam berbagai gejolak sosial akibat naiknya harga BBM. Ini merupakan upaya manuver politik yang sangat berbahaya dan  tidak sepantasnya dilontarkan para pemimpin yang berkuasa saat ini. BLT saat ini merupakan tahap kedu yang sebelumnya pernah juga dilakukan pemrintah pada tahun 2005. carut masut distribusi BLT pada waktu itu sampai sekarang masih menyisakan beban traumatis bagi masyarakat bawah, tak heran beberapa pejabat lokal seperti bupati dan kepala desa banyak yang protes tidak akan menerima BLT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alih-alih memberikan penenangan kepada masyarakat di tengah kepanikan masyarakat, manuver-manuver pemerintah sepertinya menambah kebingunan masyarakat. Bahkan Wapres Jusuf Kalla masih mengindikasikan harga BBM sangat mungkin untuk kembali di naikkan pada waktu mendatang. Lalu sebuah pertanyaan besar tiba-tiba menggelinding dibenak saya, Apa sebenarnya hubungan naiknya harga BBM dengan kondisi ekonomi kita?negeri ini nampaknya semakin sulit lepas dari ketergantungan minyak. Setelah pada tahun 1970an hingga 1980an kita seoalah terlena dengan naiknya harga minyak bumi yang ternyata semberikan keuntungan yang luar biasa. Bonanza minyak bumi begitu istilah waktu itu dan pertamina dengan trah Sutoya seolah-olah bak raja dalam negara yang sangat berkuasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Waktu itu naiknya harga minyak bumi yang “gila-gilaan mampu menjadi berkah. Kita lupa masuknya investor asing dalam ekplorasi minyak bumi menjadikan bangsa kita bak keledai yang begitu bodohnya masuk dalam perangkap asing. Baru akhir-akhir ini diketahui publik bahwa kerjasama jangka panjang yang ditandatangani pertamina ternya sangat kecil dan tidak berimbang masuknya pundi-pundi kas ke negara dengan hasil dari ekplorasi minyak bumi. Belum lagi praktik kolusi dan korupsi yang sudah membatu ditubuh pertamina. Apes memang bagi generasi sekarang yang merasakan dampaknya buruk lonjakan harga minyak dipasaran dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Puncak paceklik barang kali memang sedang di tangan SBY-JK tetapi seharusnya pemerintah tetap punya komitment dan konsekuensi kongkrit untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan dari naiknya harga BBM. Situasi sekarang memang penuh dengan keruwetan dan timpang tindih, bagaimana tidak harga bensin, solar dan minyak tanah yang naik sebesar 28% ternyata mampu menggoyang semua harga kebutuhan pokok. Beras naik, minyak goreng langka, cabe naik dan lain-lain. Apalagi pupuk untuk petani, langka! &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pangkal naiknya bahan pangan tersebut menurut opini masa adalah karena biaya distribusi barang yang juga berimbas naik. Harga solar naik, otomatis biaya untuk ekspedisi juga naik, tidak bisa tidak, belum lagi baiknya harga BBM pasti juga diikuti dengan naiknya harga semua spare part kendaraan. Situasi seperti inilah yang seharusnya diantisipasi pemerintah saat ini. BLT ataupun segala program turunan lainya secara sistemik dan logis pasti membantu bagi si penerima bahkan secara langsung. Tetapi jika pola-pola pergerakan ekonomi yang terkit sangat erat dengan harga BBM imbasnya  sampai ke semua aspek BLT seperti sia-sia, ibarat “mbedah bendungan numpak debok” (memberikan solusi tetapi juga memberikan dampak buruk yang tidak terkendali)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Melihat peristiwa naiknya harga BBM sebelumnya semestinya pemerintah banyak belajar dari sana. Bensin, solar dan minyak tanah saat ini sulit dilepaskan dari jeratan sosial ekonomi masyarakat. Ketergantungan yang berlebihan terhadap sektor ini telah “memanjakan prilaku kita” hingga begitu sensitif ketika tersentuh atau terusik. Karena bisa jadi mungkin BBM berimbas pada dunia pendidikan. Biaya pendidikan mahal, etos kerja pendidik menurun karena himpitan harga kebutuhan pokok, semangat pendidikan itu sendiri yang bergeser hanya untuk tujuan ekonomi semata. Ironis memang, tapi inilah Indonesia, semuanya menjadi mungkin karena BBM. Belum lagi permasalahan kebutuhan pokok untuk anak-anak, orang dewasa semakin lebih sibuk memikirkan kebutuhannya sendiri pastinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sulit membayangkan apa jadinya jika pola-pola rentetan naiknya berbagai seperti sekarang ini terus terjadi. Tugas pemerintah memang cukup berat untuk mencegah hal ini terus berlanjut. Dimasa mendatang pasti minyak bumi akan menjadi baggian dari cerita sejarah, karena energi perlu waktu jutaan tahun untuk terlahir kembali. Kearifan dan mengedepankan keadilan seyogyanya dijadikan patokan pemerintah dalam menjawab setiap persoalan##Irfanudin Wahyudi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-8708180817334634007?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/8708180817334634007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=8708180817334634007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/8708180817334634007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/8708180817334634007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/06/ketika-minyak-menentukan-semua.html' title='Ketika Minyak Menentukan Semua Keputusan'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-7378625790264592301</id><published>2008-05-13T14:59:00.000+07:00</published><updated>2008-05-13T15:01:30.829+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event Kalender'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>FESTIVAL PASAR KUMANDANG</title><content type='html'>Festival Pasar Kumandang&lt;br /&gt;Solo, 18-20 Mei 2008&lt;br /&gt;Pasar Tradisional sebagai Pusat Budaya&lt;br /&gt;Merayakan 100 Tahun Kebangkitan Nasional Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dibantah lagi pasar tradisional merupakan institusi sosial yang memiliki peran strategis di dalam proses pembangunan dalam berbangsa dan bernegara. Perkembangan setiap wilayah baik desa, kota ataupun negara tidak akan lepas dari peran dan keberadaan pasar tradisional. Artinya pasar tradisional merupakan cermin dari keberadaan kehidupan sosial di dalam satu wilayah tertentu. Lebih dari itu pasar merupakan pusat kebudayaan, dimana segala macam ekspresii perilaku dan nilai yang melekat dalam masyarakat terekspresikan dan diproduksi serta dipasarkan didalamnya.&lt;br /&gt;Intensitas interaksi di dalam pasar tradisonal tidak kita temukan di pasar modern yang bisu. Proses-proses dialogis tawar-menawar menjadikan pasar terhindar dari penghampaan wacana interaksi sosial dimana tukar-menukar informasi terkelola dan tersampaikan. Pasar menjadi ruang peleburan segala atribut sosial yang cair. Karena interaksi di dalamnya dibangun oleh masyarakat dari berbagai kelompok kelas sosial maupun ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-ika-an (kesatuan) dalam multikulturalisme. Kesepakatan dibangun dengan tawar-menawar merupakan bangunan dasar demokrasi diletakan dalam arti membangun kesepakatan untuk mufakat. Pasar sebagai pusat budaya semakin terlihat ketika kita kembali menoleh keberadaan pasar tradisional pada konsep semula. Pasar tradisional tidak hanya menjadi ruang pemasaran kebutuhan praksis jasmaniah. Tetapi lebih dari itu pasar tadisional menjadi ruang ekspresi kesenian dan kebudayaan. Kita dapat melihat ketika pasar masih dalam bentuk aktivitas bazaar pada ruang terbuka di desa-desa. Kesenian dan niaga menjadi saling menunjang, ketika orang berkunjung ke pasar tadisional tidak sekedar berbelanja. Tetapi lebih dari itu juga berekspreasi. Entepreneurs dan entertaiment meruang dalam satu atap memenuhi kebutuhan lahir dan batin, di dalamnya cukup memiliki pesona pariwisata. Namun sisi ini masih belum tergarap secara serius untuk dikembangkan sebagai aset unggulan wisata&lt;br /&gt;yang menarik. Meskipun cukup banyak bukti menunjukkan cukup banyak pasar-pasar tradisional yang tersebar di nusantara memiliki nilai unggulan lebih untuk diperkenalkan dalam dunia pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya perkembangan terakhir keberadaan pedagang di pasar tradisional mengalami kemunduran tergencet dan termarjinalisasikan . Akibat dari kebijakan dan sistem ekonomi yang tidak lagi berpihak dan berpijak pada kepentingan masyarakat banyak. Kondisi yang ada akan memunculkan bentuk kesenjangan yang semakin nyata menciptakan ruang konflik. Sebagai akibat ketidakadilan dari pengambilan kebijakan. Sehingga peran pasar tradisional sebagai institusi penjaga ketahanan sosial maupun ekonomi yang mandiri akan semakin tergerus di era globalisasi. 'Matinya Pasar Tradisional' tentunya akan berdampak lebih luas berkaitan dengan keberadaan jaringan ekonomi desa kota. Pada wilayah pen-supply komoditas maupun produsen berikut penunjang kegiatan pasar jasa maupun yang lain.&lt;br /&gt;Interaksi sosial di dalam pasar tradisional cukup punya andil besar dalam membangun ketahanan sosial. Karena interaksi yang ada menghasilkan solidaritas keguyuban dan tidak sekedar berorientasi pada perilaku ekonomi. Bahwa berdagang tidak sekedar mencari keuntungan materi. Tapi lebih dari itu keuntungan sosial dalam kekerabatan menjadi tak kalah penting. Demikian pasar tradisional memiliki peran yang strategis dalam upaya membangun wawasan kebangsaan secara komprehensif dalam manggagas strategi kebudayaan masa depan yang tak lepas dari akar tradisinya.. Festival Pasar Kumandang IV 2008 adalah program rutin setiap tahun yang dimulai sejak tahun 2005.&lt;br /&gt;AGENDA&lt;br /&gt;18 Mei 2008&lt;br /&gt;pk. 09.00 - 14.00 wib&lt;br /&gt;Di PASAR GEDE&lt;br /&gt;pk. 08.00 - 10.00 wib: Pembukaan Festival Seni Pasar Kumandang 2008&lt;br /&gt;Fashion On The Pasar-SMK Marganingsih&lt;br /&gt;Sesaji Kraton Surakarta&lt;br /&gt;Greget Lesung loro blonyo, Persembahan Disparta karanganyar&lt;br /&gt;Bancakan Jajan Pasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pk. 08.00 - 14.00 wib: JELAJAH PUSAKA PASAR TRADISIONAL- Sekar Panji&lt;br /&gt;Eksebisi Budaya Multi Etnik Nusantara&lt;br /&gt;Rute : Pasar Gede- Pasar Kembang-Pasar Triwindu-Pasar Legi&lt;br /&gt;Pasar Kembang, 10-13.00 Wib&lt;br /&gt;Pameran dan Workshop Batik &amp;amp; topeng-tatah sungging oleh siswa ; MGMP seni &amp;amp; budaya&lt;br /&gt;Fashion On The Pasar-SMK N 4 Solo&lt;br /&gt;Pasar Triwindu. Pk. 11-14.00 Wib&lt;br /&gt;Slametan pasar triwindu,pentas tari,keroncong, SBC dll&lt;br /&gt;Pasar Legi.Pk 14.00-16.00 Wib&lt;br /&gt;Pentas Kesenian Rakyat&lt;br /&gt;19 Mei 2008&lt;br /&gt;pk. 08.00-14.00 wib&lt;br /&gt;Di PASAR GEDE&lt;br /&gt;Pasamuan Saudagar Pasar Tradisional Nusantara&lt;br /&gt;'Sarasehan &amp;amp; Pameran Profile Pasar Tradisional'&lt;br /&gt;Pembicara : Ir.Widya Wijayanti,MURP( BPPI)&lt;br /&gt;Wiharto(Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta)&lt;br /&gt;Prof. Dr. Edi Swasono&lt;br /&gt;&amp;amp; utusan-utusan penggiat pasar-pasar tradisional di Indonesia&lt;br /&gt;*Tari Kontemporer&lt;br /&gt;PASAR NUSUKAN&lt;br /&gt;Tobong Pasar Laras Laris&lt;br /&gt;'Eksebisi Budaya Multi Etnik Nusantara'&lt;br /&gt;Pk. 15.00 - 18.00- Pentas Seni : Sanggar seni Pasar Nusukan,Padmosusast ro.Sarwi Retno budaya,Metta Budaya,Semarak Candra Kirana,&lt;br /&gt;Pk. 19.00 Wib- ,Ketoprak Taruna Budaya ISI Surakarta&lt;br /&gt;20 Mei 2008&lt;br /&gt;Di PASAR GEDE&lt;br /&gt;09.00 - 14.00 wib&lt;br /&gt;PASAMUAN PASAR KUMANDANG&lt;br /&gt;'Dialog Interaktif Nilai-Nilai Nasionalisme'&lt;br /&gt;Tema: Strategi Menumbuhkan Ekonomi Pasar Tradisional&lt;br /&gt;Pembicara: M.Sobari (LIPI), Rahmad Wahyudi (Akuntan Publik)&lt;br /&gt;14.00-17.00 wib. Di PASAR LEGI&lt;br /&gt;RUWATAN PASAR KUMANDANG&lt;br /&gt;Ki Lebdo Pujanggo -ISI Surakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di PASAR GEDE&lt;br /&gt;'Eksebisi Budaya Multi Etnik Nusantara'&lt;br /&gt;15.00-17.00- Gamelan On The Street&lt;br /&gt;19.00-20.00 - SESAJI PASAR TRADISIONAL SURAKARTA&lt;br /&gt;- Pertunjukan Tari : Aneuk Nangroe Community&lt;br /&gt;- Temperente Music Percussion&lt;br /&gt;- Ps.Vocalista de Josepha&lt;br /&gt;20.00-20.30 wib - Pidato Kebudayaan oleh Prof Dr.Waridi S.Kar.M.Hum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.30-21.00 wib - Pentas Tari Sahita : Srimpi Kesrimpet&lt;br /&gt;21.00-22.00 wib - Pidato Kebudayaan Oleh Goenawan Mohammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama&lt;br /&gt;PASAMUAN PASAR TRADISIONAL SURAKARTA, KESBANGLINMAS PEMKOT SURAKARTA, DPP Pemkot Surakarta, MATaYA art &amp;amp; Heritage, Padepokan Lemah Putih, LPPM UNS, BPPI, DIPARSENIBUD Pemkot Surakarta dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pelaksana: Suprapto Suryodarmo&lt;br /&gt;Contact Person:&lt;br /&gt;Heru Prasetya: 0816675808&lt;br /&gt;Email: &lt;a rel="nofollow" ymailto="mailto:infomataya%40yahoo.com" target="_blank" href="http://id.f760.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=infomataya%40yahoo.com"&gt;infomataya@yahoo. com&lt;/a&gt;, &lt;a rel="nofollow" ymailto="mailto:udandawet%40gmail.com" target="_blank" href="http://id.f760.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=udandawet%40gmail.com"&gt;udandawet@gmail. com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-7378625790264592301?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/7378625790264592301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=7378625790264592301' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7378625790264592301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7378625790264592301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/05/festival-pasar-kumandang.html' title='FESTIVAL PASAR KUMANDANG'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-599928794480676604</id><published>2008-04-28T17:02:00.003+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:09.610+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>JUNO: HARGA MENJADI DEWASA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SBWhoge3gCI/AAAAAAAAAEA/YGWqbove8FI/s1600-h/MV5BMTgxMjgyMTcyNF5BMl5BanBnXkFtZTcwMDg1MTU1MQ%40%40._V1._SY140_SX100_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SBWhoge3gCI/AAAAAAAAAEA/YGWqbove8FI/s200/MV5BMTgxMjgyMTcyNF5BMl5BanBnXkFtZTcwMDg1MTU1MQ%40%40._V1._SY140_SX100_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194235462527975458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Data teknis film&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Judul&lt;span style=""&gt;                          &lt;/span&gt;: Juno&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tahun Edar&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;: 25 Desember 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Sutradara&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;: Jason Reitman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Penulis Skenario &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;: Diablo Cody&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Produser&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;: John Malkovich&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pemain&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;: Ellen Page, Michael Cera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Durasi&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;: 96 min&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Produksi&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;: Fox Searchlight&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Juno adalah film tentang perjuangan. Juno adalah film tentang kemenangan. Juno adalah film tentang seorang remaja. Pada Juno kita tidak akan menemukan kisah peperangan, kisah aktivis, atau kisah seseorang yang berjuang melawan ketidakadilan di sebuah forum pengadilan. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Pada Juno kita tidak akan menemukan kisah kemenangan tim olahraga, kemenangan seorang penulis, kemenangan politisi, atau kemenangan seorang seniman. Pada Juno kita ‘hanya’ akan menemukan kisah seorang anak remaja yang tumbuh dewasa. Hanya adalah kata yang sebenarnya tidak tepat dalam konteks ini, karena pada Juno kita akan menemukan bahwa perjuangan tumbuh dewasa tidak layak mendapatkan kata ‘hanya.’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Kisah ini dimulai dengan sebuah kursi, demikian Juno mulai bercerita dihadapan sebuah kursi malas empuk sambil meminum segalon jus jeruk. Gambar dilanjutkan pada suatu waktu dimana kursi tersebut masih ada di ruang tamu dan dengan deskripsi yang singkat, sederhana, dan jauh dari vulgar penonton akan mengerti bahwa Juno telah berhubungan sex dengan seorang anak laki-laki sebayanya di kursi itu. Gambar kemudian beralih ke Juno yang berjalan santai sambil membawa botol jus jeruk ke arah sebuah toko. Di toko tersebut Juno membeli tes kehamilan. Dari dialognya kita mengetahui, bahwa Juno telah datang ke toko itu untuk kesekian kalinya di hari yang sama, untuk membeli produk yang sama, yaitu produk test pack kehamilan. Ketika kasir berkomentar setengah mengejek, Juno dengan santai berkata bahwa produk yang sebelumnya ia beli tidak terlalu bagus, jadi ia ingin meyakinkan dengan produk yang lebih bagus. Juno berjalan ringan keluar toko, masuk ke rumahnya, menuju toilet, memakai test pack, keluar dari toilet, menuju toko, dan menemukan bahwa ia positif di hadapan kasir toko. Tanpa beban saja dia melakukannya. Juno kembali ke rumahnya, menuju kamarnya, menekan telpon hamburgernya dan berkata pada sahabatnya di ujung telfon, “I’m pregnant.” Masih tanpa ekspresi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Amerika, Kebebasan, dan Juno yang Tumbuh Dewasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Juno adalah seorang remaja 16 tahun, yang hamil karena satu kali hubungan sex dengan sahabatnya Paulie Bleeker. Juno kelihatan begitu tenang menghadapi kehamilannya. Ia bersikap demikian bukan karena dia tidak bingung memikirkan keadaannya yang hamil, tetapi karena dia tahu persis bahwa dia harus segera melakukan sesuatu.   &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Seperti yang banyak dialami remaja, Juno mencari pegangan pada sahabat perempuannya. Dari sahabatnya, ia mendapat beberapa informasi tentang tempat-tempat dimana ia dapat menggugurkan kandungannya dengan aman. Ada dua pilihan tempat, salah satunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah Women Now. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Salah satu hal yang menarik untuk diamati pada situasi ini adalah fakta bahwa Juno mendapatkan nomer telepon Women Now dari iklan di koran. Iklan ini bukan hanya iklan “tidak resmi”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bertuliskan ‘terlambat haid?’ seperti iklan-iklan tempat aborsi ilegal yang tertempel di halte-halte, kamar mandi umum, atau batang pohon di trotoar jalan. Iklan ini adalah iklan yang sangat jelas dan resmi lengkap dengan keterangan jelas tentang Women Now plus tulisan yang mencolok di awal iklan tersebut: “Pregnant?” Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa konteks Amerika dalam film ini tidak dapat dilepaskan begitu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Amerika melegalkan aborsi sejak tahun 1970’an. Sampai saat ini memang masih banyak kontroversi mengenai pelegalan ini terutama dari kalangan konservatif. Namun, pada kenyataannya Amerika terbuka terhadap aborsi. Salah satu contoh keterbukaannya adalah dengan banyaknya fasilitas aborsi legal yang dapat diakses secara terbuka. Tanpa berpanjang lebar membahas mengenai aborsi, satu hal positif yang dapat dipetik dari situasi Amerika ini adalah adanya pilihan-pilihan hidup yang tersedia luas dan dapat diakses dengan mudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Pilihan haruslah didukung dengan kebebasan memilih. Kebebasan itulah yang diberikan Amerika. Apakah Juno menggunakan kebebasannya dan melakukan aborsi di Women Now? Ternyata tidak. Mengapa? Karena dalam sistem yang bebas, kebebasan yang satu berinteraksi dengan kebebasan yang lain, yang sangat mungkin melahirkan keputusan-keputusan atau pemahaman-pemahaman yang baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Pada kasus Juno, kebebasannya untuk melakukan aborsi berinteraksi dengan kebebasan Shu Chin, teman sekelasnya, untuk berdemo di depan kantor Women Now. Shu Chin adalah salah satu contoh remaja produk kebebasan yang diberikan Amerika. Meskipun sendirian, Shu Chin dengan lantang menyuarakan protes terhadap aborsi di depan Women Now sambil membawa poster yang bergambar bayi yang sangat lucu. Sebagai bagian dari keyakinannya Shu Chin mencegah Juno untuk melakukan aborsi sambil berkata bahwa siapa tahu bayi yang dikandung Juno telah mampu merasakan sakit karena mereka punya finger nails.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Juno tetap masuk, dan mendaftarkan untuk melakukan aborsi. Di ruang tunggu Women Now penonton disuguhi serpihan-serpihan permasalahan sosial di Amerika yang sesungguhnya. Ada kemiskinan, kekerasan, free sex, dan banyak hal lain yang direpresentasikan perempuan-perempuan lain di ruang tunggu. Sebenarnya Juno juga termasuk bagian dari representasi masalah sosial yang menurut Bill Clinton paling parah menjangkiti Amerika, yaitu teen pregnancy. Pada situasi ini kita melihat ternyata kebebasan tidak serta merta berbanding lurus dengan keadilan sosial dan kesejahteraan warga negara. Namun, paling tidak hal ini telah membuat Juno, pada usia yang sangat muda melihat kenyataan di luar dirinya dan teman-teman SMU nya. Kenyataan ini ditambah inspirasi ‘finger nails’ dari Shu Chin membuat Juno membatalkan niatnya untuk aborsi. Apa yang dilakukan Juno setelah itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Amerika menawarkan pilihan yang lain. Iklan orang tua angkat di koran menjadi jalan baru untuk Juno. Ia bersama sahabatnya memutuskan untuk tetap melahirkan dan memberikan anak untuk di adopsi. Kali ini kita dapat mulai melihat proses pendewasaan Juno dari caranya memilih orang tua seperti apa yang dia inginkan. Pada titik ini Juno tidak lagi memikirkan dirinya tetapi anaknya. Terbukanya pilihan-pilihan orang tua melalui iklan di koran membantu Juno memanfaatkan kebebasannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya juga anaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Beberapa peristiwa dalam film Juno di atas menunjukkan kebebasan memilih dan pilihan-pilihan terbuka yang diberikan Amerika. Harga yang harus dibayar setiap anak memang mahal. Sebelum matang secara usia, kebebasan—termasuk kebebasan yang memberi ide pada Juno untuk berhubungan sex dengan teman laki-lakinya—membuat Juno harus berhadapan dengan persoalan-persoalan yang rumit. Tidak hanya itu, ia pun harus bersikap jauh lebih dewasa dari usianya dalam memposisikan diri di tengah perceraian pasangan ideal yang dipilihnya untuk menjadi orang tua angkat. Namun, kebebasan memilih pula yang akhirnya membawa Juno dapat tumbuh dewasa, belajar bertanggung jawab, membuat pilihan-pilihan, dan menanggung konsekuensinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mendukung Anak Menemukan Jalan Hidupnya: Pelajaran dari Juno&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Sebagai film yang “sangat Amerika”, bisa jadi kita agak enggan mengambil pelajaran dari Juno. Amerika kan liberal? Bagaimana bisa nilai-nilainya di-universal-kan dan diterapkan di banyak tempat? Memang benar, Amerika sebagai super power country yang sangat banyak diberitakan di seluruh dunia, membuat kita dapat mengenali banyak kelemahan dari sistem demokrasinya. Khusus berkaitan dengan anak, Amerika sampai saat ini juga belum meratifikasi konvensi hak anak PBB.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Namun, apakah benar tidak ada pelajaran yang bisa dipetik sama sekali dari Juno? Apakah benar kondisi Juno yang akhirnya menjadi mandiri dan menemukan kebijaksanaan hidupnya melalui pengalaman pahit hamil di usia dini hanya bisa terjadi di Amerika? Benarkah kita harus memiliki bentuk-bentuk kebebasan yang sama seperti Amerika agar dapat memfasilitasi tumbuh kembang anak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Tidak serta merta mesti begitu, karena pelajaran utama yang dapat diambil dari Juno adalah bahwa proses pendewasaan Juno tidak semata-mata terjadi karena kebebasan-kebebasan ala Amerika yang tersebut di atas, tetapi karena adanya support system, termasuk dukungan yang sangat besar dari orang dewasa di sekitarnya. Shu Chin dengan segenap idealismenya, Ibu Juno yang dengan berani mendukung Juno di hadapan seorang pegawai rumah sakit yang mengejek Juno, Ayah Juno yang mendampingi Juno selama proses kehamilan, legal formal adopsi, dan kelahiran bayi Juno, calon ayah angkat si bayi yang dengan sabar mendengarkan cerita Juno, sampai kepada sistem yang bebas dan terbuka yang memungkinkan Juno berinteraksi dengan perasaan terdalamnya mengenai aborsi dan bayinya. Kemenangan Juno menghadapi persoalan hidupnya tanpa menjadi terpuruk tidak mungkin terjadi tanpa dukungan dan cinta yang sedemikian besar dari orang dewasa di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  lang="FI" &gt;Mungkinkah kita memberikan dukungan serupa pada anak-anak kita ketika ia berbuat kesalahan yang sedemikian besar? Bisakah kita menerima bahwa kesalahan bisa diperbuat siapa saja termasuk kita dan anak kita? Bisakah kita mendidik tanpa menghukum anak yang sebenarnya sudah jatuh? &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saksikan Juno dan rasakan inspirasinya. ***Sakdiyah M.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-599928794480676604?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/599928794480676604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=599928794480676604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/599928794480676604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/599928794480676604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/04/juno-harga-menjadi-dewasa.html' title='JUNO: HARGA MENJADI DEWASA'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SBWhoge3gCI/AAAAAAAAAEA/YGWqbove8FI/s72-c/MV5BMTgxMjgyMTcyNF5BMl5BanBnXkFtZTcwMDg1MTU1MQ%40%40._V1._SY140_SX100_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-4813731597736216745</id><published>2008-04-28T16:56:00.003+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:09.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>Maulid Nabi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SBWgYge3gBI/AAAAAAAAAD4/vw7jvSuZnw4/s1600-h/CL0123.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SBWgYge3gBI/AAAAAAAAAD4/vw7jvSuZnw4/s200/CL0123.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5194234088138440722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;(Q.S. Al-Ahzab: 56)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Semasa sekolah dasar dulu, ada sebuah hari yang sangat spesial yang membuat saya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;merasa senang setiap kali menjumpainya. Hari tersebut adalah hari Maulid Nabi. Setiap bulan Rabiul Awal sekolah saya pasti mengadakan suatu seremoni untuk mengenang dan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad &lt;i style=""&gt;Shallallahu Alaihi Wasallam &lt;/i&gt;tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Seperti sudah menjadi kebiasaan pada waktu menyambut hari besar itu, setiap siswa dianjurkan membawa sebungkus kue atau makanan kecil untuk kemudian dikumpulkan di suatu pos yang dijaga seorang guru kami. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bermacam-macam kue yang terkumpul di situ, mulai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari roti-rotian, buah-buahan, sampai berbagai macam snack pop yang biasa dijual di pasar tradisional di daerah kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Oleh beberapa guru, kumpulan makanan-makanan kecil tersebut kemudian dikompilasikan dengan yang lainnya dalam sebuah bungkus plastik. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Setiap bungkus plastik nantinya akan berisi kompilasi 4 atau 5 makanan kecil yang berbeda-beda. Para guru yang bertugas di bagian logistik itu, membuat bungkusan tersebut sejumlah siswa dan guru yang ikut seremoni.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bungkusan-bungkusan plastik berisi kompilasi makanan kecil itu kemudian dibagikan kembali kepada kami para siswa—sebagai “jatah konsumsi” usai acara. Jadi prinsip “demokrasi” yang masyhur itu juga berlaku di acara kami itu khususnya di bagian logistik, yaitu “dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa” . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Dan juga, kalau sebelumnya kita, para siswa membawa sebungkus makanan yang “homogen”, maka setelah usai acara, kita akan mendapat sebungkus makanan kecil juga, namun dalam bentuk yang rupa-rupa alias “heterogen”, dan itulah yang menyenangkan kami, karena laksana pelangi, kompilasi dari berbagai macam makanan kecil itu begitu mempesonakan kami—tentu saja sebagai seorang bocah kecil waktu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Begitulah potret romantisme tradisi Maulid Nabi di sekolah dasar negeri saya waktu itu. Ada rasa gembira dan senang yang saya dapat ketika mengikuti acara tersebut, meski saya tidak terlalu peduli dengan konten acaranya yang sangat klise yang biasanya disusun berurutan, yaitu: pembukaan, sambutan kepala sekolah, pembacaan ayat suci Alquran, materi ceramah umum, kemudian diakhiri doa bersama dan pembagian bungkusan makanan—yang tentu menjadi acara pungkasan terfavorit kami—para siswa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Sekarang, ketika menjumpai momentum Maulid Nabi lagi, tiba-tiba memori saya sontak kembali ke masa kecil saya tersebut. Ada perasaan geli ketika mengenang masa itu. Masa ketika—substansi (acara Maulid Nabi) saya kesampingkan dan lebih memilih bentuk kemasannya saja (pesona makanan kecilnya). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Kemasan-kemasan acara dalam rangka Maulid Nabi seperti itulah yang sering saya temukan untuk sekarang ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Bentuknya sering hanya seremoni selebrasif, tanpa menggugah lebih dalam spirit profetik substansi acaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencoba Reflektif&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Ingin berbeda dengan melakukan sesuatu yang agak berarti setelah mengenang kebengalanku waktu kecil itu, saya memutuskan untuk menelaah dan membaca kembali riwayat hidup Nabi untuk mengisi bulan Maulud ini. Saya ingin sekali “menembus ruang dan waktu”, masuk ke zaman Nabi ribuan tahun &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lalu, dan mengenal lebih dekat lagi sosok yang tiap hari saya sholawati lewat &lt;i style=""&gt;tasyahud&lt;/i&gt; akhir sholat saya itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Literatur yang saya pilih guna memuaskan hasrat saya itu adalah bukunya Karen Armstrong berjudul “Muhammad-Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis”, terbitan Risalah Gusti-Surabaya tahun 2001. Alasan saya ingin membaca biografi Nabi lewat tulisan Karen adalah karena saya sebelumnya cukup terpukau dengan bukunya yang lain yaitu “Sejarah Tuhan”. Dalam buku “Sejarah Tuhan”, Karen berhasil mengajak saya “berpetualang” untuk mengetahui peristiwa sejarah ketika Tuhan “ditemukan” dan kemudian disembah oleh berbagai umat beragama dengan berbagai konsepnya tentang Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dalam buku “Muhammad”-nya Karen Armstrong ini (setelah saya baca dengan penuh semangat, karena analisisnya begitu jernih sehingga enak dibaca), saya juga memetik beberapa hal yang cukup berarti. Buku ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berhasil menyajikan potret Muhammad dengan rasa simpati dan hormat—tanpa terlalu bersemangat menyanjung secara berlebihan—dan juga tanpa menghujat layaknya para orientalis zaman dulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Dan bagian yang begitu menarik perhatian saya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketika Karen menuliskan bagian-bagian sisi “kemanusiaan” Nabi secara rinci nan memikat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Lihatlah kutipan berikut yang menggambarkan sosok Nabi yang begitu humanis,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Muhammad memiliki bakat luar biasa dalam spiritual maupun politik—dua-duanya tidak selalu berjalan bersama—dan dia yakin bahwa semua umat beragama punya tanggungjawab masyarakat yang baik dan adil. &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Dia dapat menjadi sangat marah dan keras, namun dia juga bisa lembut, menghargai, rapuh, dan luar biasa baik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kita tak pernah mendengar Yesus tertawa, namun sering kita membaca tentang Muhammad tersenyum dan menggoda orang yang dekat dengannya. Kita melihatnya bermain-main dengan anak-anak, menghadapi persoalan dengan istri-istrinya, menangis pilu ketika sahabatnya meninggal dunia, dan memamerkan bayi lelakinya seperti semua ayah yang bangga. (Armstrong, 2001:49).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kutipan di atas adalah sebagian dari banyak narasi renik yang diungkapkan di buku ini tentang sosok Nabi yang juga “memanusia”. Nabi di sini digambarkan sebagai sosok yang begitu “membumi”, dan tidak hanya sebagai sosok yang selalu dikenal akan status “kelangitannya”. Seperti &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebuah perumpamaan yang terkenal, Nabi ibarat batu mutiara di sekumpulan batu hitam biasa, sinarnya indah cemerlang menerangi sekitarnya, namun mutiara itu tetaplah sebuah batu dengan sifat-sifatnya yang lazim untuk ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Pada bagian-bagian yang menceritakan humanisme Nabi inilah saya sungguh amat terpesona. Kalau dulu saya membaca sirah Nabi umumnya hanya mengenai hal-hal pokok, agung, dan suci dalam kehidupan Nabi seperti, ketika Nabi pertama menerima wahyu, ketika Nabi hijrah, ketika Nabi Isra’ Mi’raj, ketika melakukan serangkaian peperangan yang heroik, dan akhirnya berhasil menaklukkan Mekkah tanpa pertumpahan darah, namun di buku ini saya berhasil menemukan narasi-narasi kecil lain yang humanis tentang Nabi yang selama ini kurang begitu tergali secara populer dan cuma sayup-sayup terdengar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Kekuatan lain di buku ini adalah visi ilmiahnya yang kuat yang berjalan beriringan dengan semangat simpatiknya terhadap eksistensi Islam secara umum. Tidak seperti para orientalis zaman dulu yang cuma membahas Muhammad untuk kepentingan politik tertentu. Karen, sebagai seorang yang non-muslimah, tetap bisa fair menjaga ritme gerakan-gerakan narasi sejarah Islam dan Muhammad sonder menistakan secara apriori Islam sendiri, dan juga agama-agama di sekitarnya. Karen menawarkan perbandingan-perbandingan yang informatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antaragama dengan tetap merawat semangat pluralisme yang hakiki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Saya kemudian berpikir, kalau saja Geert Wilders, pembikin film &lt;i style=""&gt;Fitna&lt;/i&gt; yang sangat membenci Islam itu mau membaca dan menelaah buku ini, mungkin dia akan mengurungkan niatnya “menyamakan” Alquran dengan &lt;i style=""&gt;Mein Kampf&lt;/i&gt;-nya Hitler, dan menuduh Islam fasis, lewat filmnya itu. Juga andaikata masyarakat Barat mau mengenal Muhammad lewat buku ini, tentu berbagai prasangka buruk akan berganti dengan perasaan simpati yang lembut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Dan akhirnya, saya sangat berterima kasih kepada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karen Armstrong yang telah membantu saya mengenang Nabi melalui bukunya ini, sehingga momentum Maulid Nabi ini terasa begitu spesial, karena saya bisa kembali “men-&lt;i style=""&gt;charge&lt;/i&gt;” pengetahuan dan kecintaan saya pada Nabi. Meski yang saya lakukan ini tak begitu berarti, namun setidaknya spirit profetik Maulid Nabi dapat meresap ke hati saya. Dan kado kecil saya untuk Nabi, saya ucapkan selalu shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Tahseen&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: left; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Rabiul Awal 1429 H&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-4813731597736216745?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/4813731597736216745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=4813731597736216745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/4813731597736216745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/4813731597736216745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/04/maulid-nabi.html' title='Maulid Nabi'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/SBWgYge3gBI/AAAAAAAAAD4/vw7jvSuZnw4/s72-c/CL0123.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-1463551349422775331</id><published>2008-03-25T10:19:00.002+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:09.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><title type='text'>AYAT-AYAT KECEWA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R-hvllgsUtI/AAAAAAAAADU/gq4mcCzQIfM/s1600-h/Ayat2cinta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R-hvllgsUtI/AAAAAAAAADU/gq4mcCzQIfM/s200/Ayat2cinta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181514062804832978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Review atas Film Ayat-Ayat Cinta Karya Hanung Bramantyo&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagaimana seandainya suatu bagian dari film yang sangat Anda sukai tiba-tiba diambil begitu saja untuk digunakan di film lain secara berlebihan. Misalkan saja, bagaimana seandainya &lt;i style=""&gt;score&lt;/i&gt;/musik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;film Godfather yang legendaris itu digunakan untuk film lain, atau misalkan &lt;i style=""&gt;score&lt;/i&gt; film Titanic yang masyhur itu dipakai oleh film lain secara jelas sekali dan tanpa “rekayasa” apapun. Terlepas pengambilan atau adopsi musik itu melalui prosedur resmi atau tidak. Mungkin hal ini akan Anda rasakan aneh atau ganjil. Hal semacam inilah yang juga saya rasakan dan agaknya cukup mengganggu saya ketika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;nonton film &lt;i style=""&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/i&gt; (AAC) arahan Hanung Bramantyo yang saat ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;laris di pasaran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;musik latarnya yang sangat mengejutkan saya. Bukan lagu &lt;i style=""&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/i&gt; yang dibawakan oleh Rossa dan Sherina itu, namun &lt;i style=""&gt;backsound&lt;/i&gt; piano dan orkestra yang ada di hampir setiap adegan yang diasumsikan memancing emosi dan keharuan penontonnya. Lihatlah ketika adegan upacara pernikahan Fahri dengan Aisha. Atau ketika Fahri ada di “hotel prodeo” dan kemudian dikunjungi Aisha, atau pas adegan akhir di film ini. Belum lagi adegan-adegan lain—yang tentu saya akan lupa kalau disuruh menyebutkan satu persatu. &lt;i style=""&gt;Backsound&lt;/i&gt; adegan-adegan ini, ternyata menjiplak habis-habisan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;score&lt;/i&gt;/music dari film Korea Selatan favorit saya—&lt;i style=""&gt;Taegukgi&lt;/i&gt;—arahan sutradara Kang Je Gyu. Film ini diproduksi tahun 2004 dan berhasil menyabet beberapa penghargaan internasional, di samping juga sangat laris di pasaran domestik Korea Selatan sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kebetulan saya sangat mengagumi film Kang Je Gyu ini (termasuk &lt;i style=""&gt;score&lt;/i&gt;-nya) sampai-sampai saya merekam manual musik latarnya ini menggunakan &lt;i style=""&gt;flash disk&lt;/i&gt; untuk sekedar saya dengarkan di komputer saya secara berkala. Memang, kadang kalau saya sangat suka dengan sesuatu, saya tak mudah melupakannya begitu saja. &lt;/span&gt;Dan untuk film &lt;i style=""&gt;Taegukgi&lt;/i&gt;, karena film ini merupakan &lt;i style=""&gt;one of the greatest film that ever i seen&lt;/i&gt;, maka saya rela repot-repot merekamnya, meskipun hasilnya kurang begitu bagus terdengar.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kembali ke &lt;i style=""&gt;AAC&lt;/i&gt;. Film adaptasi dari novel yang berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy ini memang meledak di pasaran dan banyak dibicarakan orang untuk sekarang ini. Mungkin karena “kedorong” dengan kesuksesan novelnya juga, sehingga film ini dinanti-nanti para alumni pembaca novelnya, di samping juga—&lt;i style=""&gt;tahu sendiri lah&lt;/i&gt;…omongan dari mulut ke mulut eks penonton dengan calon penonton yang rata-rata para remaja seusia SMP dan SMA, di samping juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dorongan iklan di media yang sangat besar, sehingga sampai minggu ketiga Maret ini, berita yang saya terima menyebutkan bahwa film ini telah ditonton dua juta orang. Jumlah ini tentu besar sekali kalau dibandingkan dengan jumlah penonton untuk film-film &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; lain sekarang ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebelum nonton, saya cukup sadar dengan “identitas” film ini. Film ini diproduksi MD Entertainment dengan produsernya Duo Punjabi yaitu Dhamoo dan Manoj Punjabi, yang cukup terkenal dengan produksi sinetron popnya di televisi-televisi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalau hanya melihat sisi ini, saya mungkin akan enggan nonton film produksi PH ini. Namun saya masih mempertimbangkan sosok Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya. Saya cukup mengapresiasi karya dia sebelumnya, yaitu &lt;i style=""&gt;Brownies.&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Brownies&lt;/i&gt; menurutku cukup bagus dan layak dipuji karena memang betul-betul cukup kuat sebagai sebuah film. &lt;/span&gt;Bahkan film ini mendapat beberapa penghargaan di Festival Film &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, termasuk Penghargaan Sutradara Terbaik. Masalah sumber cerita film &lt;i style=""&gt;AAC&lt;/i&gt; ini—yaitu yang dari novel yang berjudul sama, saya juga tidak terlalu terobsesi—oleh sebab itu saya belum membacanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Film ini menceritakan kisah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Fahri, mahasiswa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang sedang kuliah di Al Azhar, Kairo-Mesir, dengan empat gadis cantik, yang jatuh cinta kepadanya secara bersamaan. Film dibuka dengan pesona lantunan shalawat dari Emha Ainun Najib yang cukup berkarakter. Beberapa adegan pembuka memperlihatkan suasana di dalam flat Fahri (diperankan Fedi Nuril), ketika Fahri minta bantuan Maria (Gadis Kristen Koptik)—teman satu flatnya—untuk membetulkan komputernya yang kena virus. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; sedikit adegan kocak di sini. Namun di adegan-adegan pertama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;inilah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keningku memulai kerutannya, karena saya kira, musik latar di adegan ini mirip-mirip dengan musik di salah satu filmnya Nia Dinata. Adegan-adegan selanjutnya mengalir dengan biasa saja, nyaris tanpa memeras emosi psikologis saya sebagai penonton. Kemudian sampailah pada adegan Fahri menikah dengan Aisha—seorang Jerman. Musik pada adegan ini lagi-lagi langsung menghentak saya, karena saya cukup mengenal musik ini—yaitu musiknya film &lt;i style=""&gt;Taegukgi&lt;/i&gt; seperti yang saya sebut di atas. Saya mau tidak mau, langsung kecewa melihat hal ini. “&lt;i style=""&gt;Ah, lagi-lagi jiplak,”&lt;/i&gt; demikian gumamku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk selanjutnya saya sudah tidak bersemangat lagi nonton film ini karena banyak keganjilan-keganjilan lanjutan yang saya lihat. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Proses pernikahan Fahri dan Aisha misalnya yang terlihat sangat instan. Bagaimana mungkin urusan nikah kok seperti memilih kucing dalam karung. Fahri cuma &lt;i style=""&gt;ta’aruf&lt;/i&gt; dengan Aisha dengan melihat paras ayunya kemudian langsung &lt;i style=""&gt;ho’oh&lt;/i&gt;, mau kawin dengannya, tanpa melalui proses “pengenalan dan pengakraban tahap lanjut” misalkan melalui diskusi, tukar pikiran atau sebagainya. Dan inilah yang terjadi ketika Aisha mulai curiga pada sosok Fahri—yang kemudian tersandung kasus kriminal setelah sebulan menikah. Dia “baru mulai” menyelidiki dan menginvestigasi sosok “misterius” suaminya tersebut. “&lt;i style=""&gt;Wah, apa udah nggak kesiangan?,”&lt;/i&gt; demikian saya pikir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Keganjilan lain yang saya dapatkan adalah masalah bahasa. Pada adegan-adegan awal, terlihat bahwa bahasa Arab digunakan pada konteksnya secara benar, misalnya dialog Fahri dengan Maria di awal film. Namun pada beberapa adegan lain, pemakaian bahasa terlihat tidak pas konteksnya. Lihat saja ketika Fahri masuk penjara dan langsung &lt;i style=""&gt;disamperin&lt;/i&gt; teman satu selnya dan menyapa dengan memakai bahasa Indonesia. &lt;i style=""&gt;Lho kok?&lt;/i&gt; Benar memang, menurut saya, tahanan tersebut adalah orang Mesir atau paling tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukan orang Indonesia lah, tapi kok memakai bahasa Indonesia. Juga ketika dialog Aisha dengan pamannya (diperankan Surya Saputra), memakai bahasa Indonesia juga, bukan bahasa Jerman atau Arab misalnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan pas adegan di pengadilan, hakim memakai bahasa Indonesia. Di sinilah menurutku Hanung kurang begitu cermat menggarap hal ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hal lain yang membuatku semakin tidak berharap banyak pada film ini adalah pupusnya menikmati panorama dan keeksotisan Mesir sebagai latar tempat di film ini. Dengan adanya apologi yang menyebutkan, bahwa ada kendala masalah izin syuting di Mesir terkait dengan tingginya biaya, sehingga tidak bisa mengambil gambar di negara ini, dan kemudian agaknya disiasati oleh sutradara dengan lebih banyak mengambil gambar di &lt;i style=""&gt;indoor&lt;/i&gt; saja. &lt;/span&gt;Untung saja adegan-adegan di dalam ruangan ini banyak tertolong dengan kecemerlangan kamera dalam mengambil angle-angle gambar yang artistik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Faktor lain yang agaknya cukup mengganggu adalah masalah &lt;i style=""&gt;casting&lt;/i&gt; pemain. Banyak pemain di film ini yang menurutku tidak cukup pantas memerankan perannya. Fedi Nuril agaknya kurang begitu tepat memerankan sosok Fahri yang digilai oleh banyak gadis. Karakter dan sosok Fedi terlalu lugu dan lembek di film ini, aktingnya pun biasa saja. Lalu ada banyak pemeran yang menurutku &lt;i style=""&gt;too much Indonesian faces&lt;/i&gt;. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Lihat saja sosok yang memerankan paman Aisha, si Surya Saputra. &lt;/span&gt;Harusnya Hanung berani mencari orang yang betul-betul Jerman, atau minimal bule. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Demikian pula sosok Marini yang memerankan Ibu si Maria, yang harusnya sosok permpuan Arab Mesir Koptik tulen. Sosok Rianti Cartwright yang memerankan Aisha juga terlalu MTV sehingga imej tersebut susah dihilangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhirnya, hal yang juga patut dicermati dalam film ini adalah pemotretan isu poligami. Fahri—layaknya Don Juan—membuat banyak perempuan di sekitarnya &lt;i style=""&gt;klepek-klepek&lt;/i&gt; takluk kepadanya. Meski secara akting dan performa sangat jauh dari harapan, namun secara skenario—tuntutan cerita (dari novel), para perempuan tersebut akhirnya menjadi istri Fahri meskipun terfilter cuma dua orang yaitu Aisha dan Maria. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Di sinilah saya kira peran si penulis novel yang menentukan. Habiburrahman menghembuskan isu poligami ini dengan sangat halus, meski pada akhirnya perspektifnya terlihat agak paternalistik, saya kira. Isu poligami yang di Islam sendiri menjadi isu yang terus “panas” dan “kontroversial”, di film ini menemukan suatu bentuk kasusnya tersendiri. Dan yang pasti, saya menduga banyak penonton yang melihat kasus poligami di film &lt;i style=""&gt;AAC&lt;/i&gt; ini pasti hanya manggut-manggut saja, mengiyakan, atau saya yakin, pasti sedikit orang yang menolak “deskripsi persuasif” dari penulis novel ini tentang isu poligami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Secara keseluruhan memang film ini kurang begitu menggigit. Tampaknya ada “energi” yang belum keluar sepenuhnya dari Hanung, sehingga film ini terkesan biasa saja. Dan juga, tak ada sentuhan estetik baru yang ditawarkan Hanung dalam film ini. Mungkin keunikan film ini hanya pada &lt;i style=""&gt;team&lt;/i&gt;nya. Film ini adalah film yang bernafaskan Islami dan dari novel Islami juga, namun disutradarai oleh sutradara “sekuler”, produser “sekuler”, dan para pemain yang mayoritas “sekuler” . Hal lain yang cukup positif adalah, film ini muncul di tengah serbuan film-film bergenre horror yang sedang menyesaki bioskop-bioskop &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Dan hal &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menarik lain yang juga terlihat adalah, adanya kecenderungan bertemunya tiga kompoenen kebudayaan, yaitu sisi ekonomi kapital, sisi religiusitas, dan sisi kesenian. Tiga komponen ini telah berjabat tangan erat untuk bersedia berjalan bersama sehingga didapat suatu bentuk ekspresi religiusitas, kesenian dan kebudayaan yang &lt;i style=""&gt;ngepop&lt;/i&gt; dan digandrungi banyak masyarakat. Gejala ini memuaskan mayoritas masyarakat pemirsanya, menggelembungkan uang produsernya, dan menambah daya jual sutradara dan para pemainnya. Namun demikian, seperti sifat-sifat budaya populer yang telah ada, saya yakin film ini hanya akan “dibicarakan sesaat” dan kemudiaan tenggelam digeser dengan “dagangan” baru yang lebih &lt;i style=""&gt;ngepop&lt;/i&gt;. Masuk nominasi festival film internasional? &lt;i style=""&gt;Hmm&lt;/i&gt;…Sangat pesimis deh…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Takhsinul Khuluq&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 23 Maret 2008&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-1463551349422775331?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/1463551349422775331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=1463551349422775331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/1463551349422775331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/1463551349422775331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/03/ayat-ayat-kecewa.html' title='AYAT-AYAT KECEWA'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R-hvllgsUtI/AAAAAAAAADU/gq4mcCzQIfM/s72-c/Ayat2cinta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-1471212532188926479</id><published>2008-03-11T11:36:00.007+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:10.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Supersemar Surat Sakti "Semar Super"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YOl6OV1jI/AAAAAAAAACk/nHL3D0x0u3w/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 243px; height: 131px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YOl6OV1jI/AAAAAAAAACk/nHL3D0x0u3w/s400/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176340866156320306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YS8qOV1oI/AAAAAAAAADM/7jCCBHadfNE/s1600-h/supersemar.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 105px; height: 138px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YS8qOV1oI/AAAAAAAAADM/7jCCBHadfNE/s400/supersemar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176345655044855426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YSr6OV1nI/AAAAAAAAADE/WwqHzy5WW_4/s1600-h/sp+11+maret.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 273px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YSr6OV1nI/AAAAAAAAADE/WwqHzy5WW_4/s400/sp+11+maret.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176345367282046578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;a href="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/semar.jpg"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="Semar" href="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/semar.jpg" style="'width:98.25pt;height:89.25pt'" button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" href="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/my_blog/images/semar.jpg"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Sekalipun telah berlangsung lebih dari empat dasawarsa, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) masih diselimuti misteri. Selubung misteri ini pun tak ayal menuai kontroversi karena Supersemar dijadikan legitimasi peralihan kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;meminjam istilah Asvi Marwan Adam “Kudeta Merangkak”.&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Supersemar dipelintir sebagai penyerahan mandat dari Presiden Soekarno kepada Soeharto&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;waktu itu berpangkat Letjend dan menduduki jabatan Menteri Panglima Angkatan Darat. Dengan surat ini, Soeharto kemudian mengambil alih kewenangan Soekarno hingga kemudian diangkat oleh DPR/MPR sebagai Presiden ke II. &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Namun, sebagai surat yang berpengaruh sangat besar, hingga sekarang kebaradaan surat ini belum bisa ditemukan. Berbagai pihak yang terlibat dalam pelemik surat sakti ini sudah uzur dimakan usia. Sulit untuk melakukan rekonstruksi jika hanya mengandalkan ingatan dari para aktor sejarah ini. Sebut saja Soeharto&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;sebagai aktor utama&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;terganggu ingatannya karena didera berbagai penyakit yang tidak saja menggerogoti tubuhnya tetapi juga menghapus memori di kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YO7qOV1kI/AAAAAAAAACs/0dUHKxDH0Ac/s1600-h/supersemar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 142px; height: 199px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YO7qOV1kI/AAAAAAAAACs/0dUHKxDH0Ac/s400/supersemar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176341239818475074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt; &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Supersemar&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;sebagai surat sakti&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;untuk keperluan penulisan sejarah tetap perlu diuji kebenarannya. Walaupun implikasi politiknya semakin kecil, karena Soeharto bukan lagi menjabat Presiden, keberadaan surat ini perlu diketahui masyarakat. Kepentingannya agar bangsa ini bisa belajar dan tidak lagi menjadi “bangsa keledai” yang terperosok ke dalam permasalahan yang sama beberapa kali. &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kontroversi Supersemar menjadi isu yang hangat karena menyangkut peralihan kekuasaan bahkan dianggap sebagai &lt;em&gt;coup de etat&lt;/em&gt; secara halus. Ada berbagai versi yang menceritakan proses lahirnya surat ini. Namun, sebenarnya ada tokoh kunci untuk menguak misteri Supersemar yaitu Jenderal (purn) Amir Machmud, Jenderal (purn) Basuki Rahmat dan juga Jenderal (purn) M Yusuf yang pada saat itu menemui Soekarno di Istana Bogor. &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Banyak pihak yang masih berseteru soal kemunculan Supersemar. Ada yang menuding ketiga Jenderal (M. Yusuf, Basuki Racmat, Amir Machmud) memaksa Soekarno untuk menandatangani surat. Bahkan menurut keterangan Letnan Satu &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sukardjo Wilardjito&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;pengawal presiden&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;ketiga Jenderal tersebut menodongkan senjatanya ke arah Soekarno. Hal senada dibenarkan mantan komandan Cakrabirawa Brigadir Jenderal Sabur maupun Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pengakuan ini dibantah oleh Mantan Mesesneg Moerdiono maupun Mantan Wapres Soedharmono. Menurut Moerdiono dan Soedharmonoinisiatif keluarnya surat berasal dari ketiga Jenderal tersebut. Mereka berdiskusi dengan Soekarno tentang situasi negara yang dalam kondisi kritis dan mengusulkan agar menyerahkan kewenangan kepada Soeharto selaku Pangkopkamtib untuk menyelesaikan masalah. Soekarno menyetujui usulan ketiga jenderal tersebut dengan membuat Supersemar. &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YPrKOV1mI/AAAAAAAAAC8/8pigCsN7pq0/s1600-h/sp+11+maret.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 242px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YPrKOV1mI/AAAAAAAAAC8/8pigCsN7pq0/s400/sp+11+maret.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176342055862261346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bukan hanya soal bagaimana munculnya Supersemar, polemik juga muncul tatkala ada beberapa versi Supersemar. A. Pambudi dalam historiografinya berjudul “&lt;em&gt;Supersemar Palsu, Kesaksian Tiga Jenderal&lt;/em&gt;”.menyebutkan terdapat tiga versi Supersemar. Menurut Pambudi, dari tiga versi Supersemar diketahui ada perbedaan dalam hal format penulisan maupun kop surat yang digunakan. Yang lebih gila lagi, tandatangan Presiden Soekarno juga berbeda antara surat satu dengan lainnya. A.Pambudi merinci, dari ketiga surat, diketahui 21 perbedaan.&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebenarnya telah banyak usaha untuk menyingkap tabir misteri keberadaan Supersemar. Sebut saja misalnya hostoriografi karya A.M. Hanafi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;mantan Dubes Kuba yang diberhentikan secara inkonstitusional oleh Soeharto dalam bukunya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;—&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Menggugat Kudeta Soeharto"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, Tidak hanya dari kalangan akademisi dan sejarahwan, M.Yusuf sebagai aktor juga berusaha mengungkap dalam biografinya yang berjudul “&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Jenderal M. Jusuf Penglima Para Prajurit”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;. Bahkan, sudah berapa ratus kali diadakan diskusi ataupun seminar untuk mencari kebenaran Supersemar, namun tetap masih gelap. &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbagai research juga sudah direncanakan dengan berupaya memanggil para aktor sejarah seperti M Yusuf. Namun, sebelum semuanya terungkap, saksi kunci M. Yusu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;saksi terakhir dari tiga jenderal yang menemui Soekarno&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Arial;"  lang="IN"&gt;—&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;meninggal dunia pada &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;8 September 2004 sebelum memberikan keterangan tentang Supersemar. Saksi kunci peristiwa ini sudah tidak ada lagi. Soeharto sebagai pemegang mandat sudah berdiam meninggal dan di kebumikan di Astana Giri Bangun di penghujung 2007 kemarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang tersisa sekarang hanya saksi pelaku sejarah. Bukan aktor utama dalam peristiwa tersebut. Dalam terminologi sejarah mereka disebut “an eye withness history”. Sebut saja seperti Sukardjo Wilardjito&lt;/span&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt; yang mantan pengawal presiden kemudian Mantan Komandan Satgas 11 Maret. Bahkan, dalam diskusi pagi tadi di salah-satu tv swasta, keduanya masih berbeda pendapat. Bahkan, sang mantan Dansatgas dengan tegas menyatakan, penelusuran Supersemar tidak penting dilakukan. Semua sudah dilaksanakan sesuai prosedur. Tapi, bagi sang pengawal, ada penyalahgunaan surat tersebut. Keduanya masih tetap bertahan dengan argumen masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span arial="" narrow="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Yang pasti, hingg saat ini nasib naskah asli Supersemar masih belum jelas juntrungnya. Ada yang menyebutkan surat berada di luar negeri namun ada yang menyebutkan disimpan sebagai arsip dan koleksi pribadi. Namun yang pasti, Supersemar masih di negeri yang bernama antah-barantah. Tidak ada bukti otentik yang menjelaskan dimana keberadaan Supersemar. Entah sampai kapan Supersemar yang melahirkan "Semar Super" ini akan tetap menjadi misteri. Mungkin hanya TUHAN yang tahu karena sang Semar-pun sudah dipangilnya. Coba saja tanya Tuhan, barangkali Semar mengaku di alam sana....... &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-1471212532188926479?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/1471212532188926479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=1471212532188926479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/1471212532188926479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/1471212532188926479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/03/supersemar-surat-sakti-semar-super.html' title='Supersemar Surat Sakti &quot;Semar Super&quot;'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9YOl6OV1jI/AAAAAAAAACk/nHL3D0x0u3w/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-4566354444506332719</id><published>2008-03-08T15:13:00.008+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:10.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>Cinema Paradiso dan Awal Sebuah Hasrat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JPVqOV1dI/AAAAAAAAABg/JvvSil6kyeM/s1600-h/cinema+paradiso+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175286155332408786" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JPVqOV1dI/AAAAAAAAABg/JvvSil6kyeM/s320/cinema+paradiso+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JN5aOV1cI/AAAAAAAAABY/6qvaj-r2l8o/s1600-h/cinema+paradiso+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175284570489476546" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JN5aOV1cI/AAAAAAAAABY/6qvaj-r2l8o/s320/cinema+paradiso+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JNhqOV1bI/AAAAAAAAABQ/NVkGPYjC5-c/s1600-h/cinema+paradiso+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175284162467583410" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JNhqOV1bI/AAAAAAAAABQ/NVkGPYjC5-c/s320/cinema+paradiso+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tanggapan kecil untuk Sakdiyah Maruf&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Film bagiku adalah segalanya. Ungkapan tersebut mungkin terlalu berlebihan bagi orang lain, namun tidaklah demikian bagiku. Bagiku, nonton + mengapresiasi sebuah film adalah menu wajib setiap saat—ketika kondisi jiwa ini sedang senang, sedih, ataupun hanya mengambang saja. Melalui film, aku seperti dibawa ke arah dunia serba berkemungkinan, penuh kejutan, ketakterduagaan—mengutip sajaknya Chairil Anwar—“Terbang/Mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat// the only possible- non stop flight/”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari film juga, aku belajar dan menemukan banyak karakter yang mampu menopang dan membantuku membentuk sifat dan kepribadianku hingga semakin kuat dan matang. Bahkan menurutku—pengaruhnya jauh lebih terasa apabila dibandingkan misalnya dengan belajar memahami karakter dari kerabat ataupun teman dekat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam film, aku juga menemukan keindahan kompleks dari berbagai hal di dalamnya. Cerita yang bagus, angle-angle gambar yang artistic, acting yang memukau, dan musik yang indah. Lihatlah misalnya dalam film Cinema Paradiso karya Giuseppe Tornatore itu. Film Italia ini menceritakan persahabatan antara seorang anak kecil (Salvatore) dengan seorang projectionist (Alfredo) sebuah bioskop pertama (yang bernama Cinema Paradiso) di daerah Sisilia Italia pada tahun 1940-an.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cerita bermula ketika Salvatore dewasa mendengar berita kematian Alfredo. Sontak berita tersebut mengembalikan memori indahnya bersama Alfredo semasa kecilnya dulu. Alur cerita pun flashback ke tahun 1940-an ketika Salvatore masih imut dan berusia 6-7 tahunan. Ketika Salvatore seusia itu, bioskop baru masuk ke Sisilia sebagai bentuk kesenian dan kebudayaan yang baru sama sekali. Tak heran apresiasi dan sambutan masyarakat di situ sangat tinggi. Begitu pun juga yang dirasakan Salvatore kala itu—sangat terpukau dengan “keajaiban” film.&lt;br /&gt;Cinema Paradiso adalah satu-satunya gedung bioskop yang ada di situ. Dan tak heran, setiap pemutaran film, antrean penonton membludak luar biasa. Projectionist Cinema Paradiso adalah bernama Alfredo—seorang yang ramah dan baik, berusia sekitar 40 or 50 tahunan. Alfredo berteman baik dengan Toto kecil (panggilan akrab Salvatore). Setiap pemutaran film, Toto selalu mendampingi Alfredo dan perlahan-lahan menjadi asisten tersayangnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Banyak adegan menarik yang ada di film ini. Lihat saja, ketika para pendeta lokal bertindak sebagai “LSF”nya Cinema Paradiso secara langsung. Film-film yang membutuhkan pemadam kebakaran, alias film-film hot—yang banyak adegan erotisnya, diputar secara tertutup terlebih dahulu oleh Alfredo dan disaksikan oleh para pendeta yang kemudian memberi instruksi untuk “memotong” sebuah adegan ketika dirasa adegan tersebut mengandung unsur erotis meskipun belum tentu cabul. Dan lihatlah, ketika film-film tersebut lolos sensor dan diputar bebas ke penonton, setiap ada adegan yang “berindikasi” erotis, atau sedang dalam kondisi yang mau “memuncak”, tiba-tiba saja terpotong dan berganti adegan selanjutnya yang sudah “netral”. Para penonton—yang terdiri dari orang dewasa, remaja, dan anak-anak, laki-laki dan perempuan, sontak memaki dan memprotes sembari berteriak “huuu…” ketika gagal menonton adegan “yang diharapkan” tersebut. Dari ruang projectionist, Alfredo (dan Toto) hanya tersenyum simpul menyaksikan ulah para penontonnya. Tak heran, scene ini membuatku tersenyum kagum mengapresiasi sebuah fragmen skenario yang hebat dari film ini.&lt;br /&gt;Kembali ke cerita, suatu waktu, terjadi accident yang memilukan ketika ruang projectionist terbakar sehingga mengakibatkan mata Alfredo buta. Kejadian ini sangat menyedihkan Toto dan Alfredo. Akibat peristiwa ini, praktis tugas sebagai projectionist diemban Toto kecil dengan pengarahan Alfredo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cerita kemudian berlanjut ketika Toto menginjak remaja. Toto melanjutkan belajarnya sebagai seorang calon sineas di Roma. Dalam kurun usia remaja ini juga diceritakan tentang kisah cinta Toto terhadap seorang gadis yang sungguh manis. Di sini, ditampilkan bagaimana perjuangan Toto dalam mengambil hati gadis tersebut. Ketika usaha awalnya cenderung belum berhasil memikat hati gadis pujaannya, Toto kemudian berikrar pada si gadis bahwa dia akan setia menunggu “jawaban” setiap malamnya dengan berdiri dan memandangi kamar si gadis semalaman. Malam demi malam pun dilalui Toto dengan pengorbanannya tersebut. Hujan dan badai, sama sekali tak menyurutkan niat dan perjuangannya itu. Hati gadis mana yang tak tersentuh dengan perjuangan seorang pemuda yang cukup tampan, dan baik, yang menghendaki cintanya seperti itu. Si gadis akhirnya pun runtuh hatinya, dan bersedia membalas cinta Toto. So sweet…&lt;br /&gt;Huh… sungguh luar biasa…aku hanya terpaku menyaksikan adegan-demi adegan yang memukau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Film ini berakhir ketika Toto dewasa datang lagi ke Sisilia berkabung untuk kematian Alfredo. Ketika datang ke kota kecilnya tersebut, Cinema Paradiso masih tegak berdiri namun dengan wajah kusam, karena sudah tidak digunakan lagi sebagai gedung bioskop. Toto memandang masygul ke arah gedung tersebut. Gedung yang telah memberikan banyak kenangan manis untuknya, yang dulu menjadi primadona tempat hiburan masyarakat di situ, kini telah pensiun dan hanya menjadi seonggok bangunan yang muram. Toto perlahan memasuki gedung tersebut, sembari merasakan kehadiran dan kehangatan Alfredo yang disayanginya meskipun telah tiada. Di ruang projectionist, Toto menemukan gulungan film yang “agak misterius”. Penasaran dengan gulungan film ini, Toto kemudian memutar dan menontonnya. Pada moment inilah film ini menemukan puncak keindahan dramatiknya. Ternyata gulungan film itu adalah potongan-potongan film hasil sensoran para pendeta, yang dulu—oleh Alfredo—tidak dibuang atau dibakar, tetapi malah dirangkai menjadi sebuah montase yang memukau. Toto takjub menyaksikan potongan-potongan film yang berisikan various of kissing scene itu. Dulu sewaktu masih kecil, dia dilarang Alfredo ketika ingin ikut nonton film hasil sensoran tersebut. Adegan ini semakin sempurna dan begitu menyejukkan hati, ketika “dihajar” dengan backsound yang memikat dari composer Ennio Morricone. Ohhh…so fu*%^# perfect scene…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tak heran film ini mendapat banyak pujian dari banyak kalangan. Academy Award 1989 mengganjarnya dengan penghargaan film berbahasa asing terbaik kala itu dan Festival Film Cannes 1989 menghadiahinya Special Jury Prize.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinema Paradiso aku tonton sewaktu masih kelas 2 atau 3 SMA dulu. Melalui film inilah terbuka mataku melihat film bukan hanya sebagai objek hiburan pemuas sesaat saja alias sebagai “sampah” budaya pop. Dan juga, kalau sebelumnya, wawasanku hanyalah pada film-film Hollywood yang stereotype, melalui film ini aku menjadi sadar bahwa ada “the others” yang sangat special dan selama ini luput dari pengamatanku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cinema Paradiso dan film-film sejenisnya yang selanjutnya kutonton semacam The Road Home (Zhang Yimou), Amelie (Jean Juennet), City of God (Fernando Meirelles), Amores Perros (Alejandro G. Inarritu), The Sea Inside (Alejandro Amenabar), Elephant (Gus van Sant) dan Rashomon (Akira Kurosawa), menurutku mempunyai kekuatan yang dahsyat sehingga dapat membuatnya eternal dikenang oleh para pengagumnya. Seperti kebanyakan film yang berkarakter kuat, film-film ini mungkin tidak sedap ditonton oleh penonton kebanyakan, yang hanya memerlukan satisfication sesaat—kemudian melupakannya begitu saja. Film-film ini juga—bagi mereka (pecinta budaya pop) mungkin tidak seru untuk ditonton, tidak menghibur, dan cenderung aneh. Sikap ini menurutku wajar saja untuk ada. Masyarakat pecinta budaya pop memang berkarakter begitu. Mungkin adanya analisis kebudayaan yang menyebutkan bahwa terdapat kategorisasi “budaya tinggi” yang bersifat elit, khusus, dan eksklusif dan “budaya massa” yang bersifat nge-pop dan massif ada benarnya juga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Namun bagiku, pemilahan kategori tersebut yang menyebabkan kita— secara sosiologis berkebudayaan—bisa mendapatkan/memilih “posisi” tertentu atau sebuah “tempat” tertentu dari kedua kategori itu adalah benar adanya, tapi tidaklah sepenuhnya menjadi tujuan utama. Lebih lagi menurutku (secara pribadi), sebagai audience yang “otonom” (kalo istilah ini masih dianggap relevan) yang mempunyai kebebasan berselera dan berapresiasi dalam memilih suatu karya kebudayaan atau kesenian (dalam hal ini adalah film), faktor kedalaman dan keunikan artistik— termasuk keindahan-keindahan metafora di dalamnya, humanity values yang mencerahkan, dan orientasi penciptaan karya film yang tidak hanya menghamba pada kerakusan uang secara keterlaluan, melainkan lebih bervisi pada idealisme—adalah faktor yang sangat penting untuk dijadikan “standar” seleksi untuk menentukan, apakah film ini harus aku tonton, perlu aku tonton, atau hanyalah “sampah” yang aku buang ke keranjang sampah saja.&lt;br /&gt;Pilihan dan kecintaan kita terhadap suatu karya seni inilah yang kemudian secara otomatis menentukan posisi kita sendiri dalam peta audience secara sosiologis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Meski demikian, secara pribadi aku tidak begitu peduli mau ditempatkan/disebut sebagai “kaum elit” atau apa akibat pilihanku ini. Yang menjadi orientasi dan prioritasku dalam memilih dan menikmati suatu karya seni (audience) hanyalah faktor-faktor seperti telah kusebutkan di atas. Namun demikian, kadang-kadang pula aku temukan suatu karya seni pop yang juga bagus. Lihatlah pesona AADC karya Rudi Sujarwo itu, atau dalam industri pop Hollywood kita temukan film klasik Cassablanca, Titanic karya James Cameroon dan Lord of the Ring-nya Peter Jackson yang berhasil menyedot jutaan penonton. Karya ini sangat pop dan secara pribadi (without hypocrite) aku juga menyukainya. Tidak semua karya pop brengsek, asal dia kreatif dan tidak hanya menjadi hamba sahaya bagi uang (baca: produser) secara berlebihan dalam proses penciptaannya. Pertemuan antara idealisme estetik dengan modal yang bagus, sering pula terjadi dan ini merupakan hal yang sangat wajar. Kita bisa melihat banyak film yang “berhasil” setelah mengawinkan dua elemen ini. Kalau petanya Hollywood, kita bisa melihat di film Jurrassic Park, Lord of the Ring, Saving Private Ryan, dan Star Wars (kualitas estetik untuk film-film ini yang cenderung mengandalkan visual effect menurutku sangat relatif dan kontekstual: tergantung oleh ruang dan waktu). Ada juga film Hollywood yang dengan modal cekak, tapi dengan ramuan estetik yang tinggi, sehingga berhasil mengatrol eksistensi film tersebut ke puncak penghargaan para audience-nya, misalnya saja Crash, Mystic River, Million Dollar Baby, Boys Don’t Cry, American Beauty, Sideways, dan Little Miss Sunshine. Meskipun begitu, anggapan saya ini tentu saja sangat bisa didebatkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sebagai perbandingan lain, ada juga kasus menarik menurutku yang menjadi catatan buruk seorang sineas yang mengorbankan idealismenya pada pasar. Sebagai contoh, lihatlah Rudi Sujarwo—salah seorang sutradara perintis kebangkitan era baru perfilman Indonesia. Film-film rilisan awalnya sangat kukagumi termasuk Bintang Jatuh, dan AADC. Rudi berhasil membawa warna baru dalam dunia film Indonesia yang kala itu tengah terpuruk. Bintang Jatuh lumayan bagus dan AADC satu tingkat di atasnya menurutku. Film-film dia berikutnya cukup lumayan bagus juga, seperti misalnya Mengejar Matahari dan 9 Naga, idealisme tetap ada di situ meski hasilnya tidak lagi sekuat AADC. Namun setelah itu, aku terkejut binti terperanjat, ketika dia ikut-ikutan bikin film hantu yang di Indonesia sedang ngetrend sekarang ini. Dia bikin Pocong 1 (yang tak lolos sensor LSF), Pocong 2 (berhasil beredar di pasaran) dan sekarang yang mau rilis adalah 40 hari Bangkitnya Pocong. Apa-apan ini?! Aku hampir nggak percaya dengan pilihan Rudi ini. Apakah Rudi tergiur dengan godaan uang sehingga bersedia mengorbankan idealismenya yang semula aku kagumi itu? Aku kira benarlah anggapanku ini, dan tentunya aku merasa kecewa. Sikap idealisme telah runtuh oleh kekuasaan uang. Sungguh menyedihkan bukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Takhsinul Khuluq&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Maret 2008&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-4566354444506332719?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/4566354444506332719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=4566354444506332719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/4566354444506332719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/4566354444506332719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/03/cinema-paradiso-dan-awal-sebuah-hasrat.html' title='Cinema Paradiso dan Awal Sebuah Hasrat'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R9JPVqOV1dI/AAAAAAAAABg/JvvSil6kyeM/s72-c/cinema+paradiso+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-3510102139258342125</id><published>2008-03-05T10:05:00.001+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:11.282+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>Menggusur Korupsi dengan Tafsir dan Fiqih</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'width=117,height=113,scrollbars=no,resizable=no,toolbar=no,directories=no,location=no,menubar=no,status=no,left=0,top=0'); return false" href="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/tikus2.jpg"&gt;&lt;img src="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/my_blog/images/tikus2.jpg" title="Tikus2" alt="Tikus2" style="margin: 0px 5px 5px 0px; float: left;" border="0" height="134" width="113" /&gt;&lt;/a&gt;   &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Memberantas korupsi di Indonesia bukanlah perkara yang sepele. Korupsi telah menghegemoni kehidupan masyarakat Indonesia. Korupsi muncul di (hampir) semua bagian masyarakat Indonesia. Tidak hanya dalam penanganan masalah sampah, korupsi juga merambah hingga dalam pembangunan rumah ibadah. Terbukti, Korupsi tidak hanya berada di wilayah &lt;em&gt;profan &lt;/em&gt;namun juga ke bidang yang bersifat &lt;em&gt;religius&lt;/em&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R84PArjKa4I/AAAAAAAAABA/v5yxQAmuN-Y/s1600-h/koruptor2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R84PArjKa4I/AAAAAAAAABA/v5yxQAmuN-Y/s320/koruptor2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174089526259903362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Yang patut dicatat, Korupsi muncul bukan hanya karena kesempatan namun juga karena adanya kemauan atau niat. Agama sebagai penjaga moral diharapkan mampu menjadi benteng bagi umat untuk melawan niat melakukan korupsi. Hal ini karena Islam juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya berdasarkan etika dan moral. Dalam agama Islam, dinyatakan bahwa mengambil yang bukan menjadi hak seseorang adalah dosa. Hal ini kemudian dijadikan sebagai pijakan dasar untuk melawan Korupsi.&lt;/span&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Untuk itu, melawan koprupsi tidak hanya bisa dilakukan dengan merubah pandangan masyarakat atau umat. Yang lebih penting adalah merubah paradigma umat tentang korupsi dengan perspektif agama dan untuk merubah perpsepktif tentang agama itu sendiri. Hal ini karena korupsi tidak saja mencakup perliku &lt;em&gt;ansich&lt;/em&gt; namun juga mencakup pola pikir. Fatwa yang menyatakan korupsi sebagai perbuatan haram bisa berubah jika tidak dilawan dengan upaya mengubah persepsi dan nalar manusia secara &lt;em&gt;teologis&lt;/em&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Ibarat penyakit, korupsi di Indonesia sudah begitu akut dan menggerogoti semua sendi. Berdasarkan &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Transparancy International&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt; (TI) tentang &lt;em&gt;Coruption Perception Index &lt;/em&gt;(CPI), pada tahun 2002 Indonesia berada di peringkat ke-enam terkorup dari 102 negara. Indonesia duduk sejajar dengan Bangladesh, Nigeria, Paraguay, Madagaskar dan Angola. Pada tahun 2004 kondisi Indonesia semakin parah terjerembab di urutan 135 dari 145 negara serta menduduki no 2 terburuk di Asia. Kondisi ini kian hari bukan kian membaik, namun justru semakin terperosok.&lt;/span&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Menurut berbagai analisis pihak-pihak yang berkompeten, korupsi terjadi karena dua hal. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt; pelaksanaan negara yang tidak transparan serta kontrol yang lemah sehingga menyuburkan lahan korupsi. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt; pemberantasan korupsi yang canggung dan tidak memberikan efek jera terhadap koruptor. Pembuatan perangkat hukum berupa UU terbukti tidak berpengaruh signifikan. Punhalnya dengan pembentukan berbagai alat negara sebagai panglima dalam pemberantasan korupsi yang tidak mampu bekerja maksimal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Kita mungkin cukup jengah penegakan &lt;em&gt;supremacy&lt;/em&gt; hukum di Indonesia. Maka menyandarkan&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R84O1bjKa3I/AAAAAAAAAA4/fKj6cjk3VYc/s1600-h/koruptor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R84O1bjKa3I/AAAAAAAAAA4/fKj6cjk3VYc/s320/koruptor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174089332986375026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt; pemberantasan korupsi hanya melalui jalur hukum nampaknya masih seperti harus membenturkan kepala ke tembok tebal. Harus dipikirkan alternatif lain untuk melakukan gerakan mendobrak pelaku korup yang dianggap telah membudaya. Dengan melakukan perlawanan melalui budaya dan religi akan dihasilkan watak manusia-manusia yang ber-etika dan anti korupsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Agama bisa digunakan sebagai alternatif. Dalam Islam disebutkan bahwa korupsi merupakan perbuatan &lt;em&gt;fasad &lt;/em&gt;yakni perbuatan merusak tatanan kehidupan yang pelakunya dikategorikan sebagai &lt;em&gt;jinayah kubro. &lt;/em&gt;Menurut Islam, korupsi merupakan tindakan amoral yang bertentangan secara diametral dengan nilai luhur seorang muslim. Seorang muslim dituntut untuk bersifat &lt;em&gt;al shadiq &lt;/em&gt;(jujur) dan &lt;em&gt;al Amin&lt;/em&gt; (menjunjung amanah). Koruptor mempunyai sifat berkebalikan yaitu &lt;em&gt;al thama&lt;/em&gt; (serakah) dan &lt;em&gt;al Kadzib&lt;/em&gt; (penipu). Hal ini sejalan dengan prinsip Islam bahwa kekayaan negara harus di-&lt;em&gt;tasharauff-&lt;/em&gt;kan dengan jujur untuk kemaslahatan umat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Harta hasil kekayaan yang didapat dari korupsi termasuk harta yang haram. Katagori haram karena cara memperolehnya dengan jalan yang tidak benar. Namun, paradigma haram ini seringkali dipelintir. Harta yang cara memperolehnya haram selamanya akan tetap haram. &lt;em&gt;Ma kharuma akhduhu kharuma ighdho luhu &lt;/em&gt;(sesuatu yang haram mengambilnya, haram pula memberikannya). Tidak ada alasan uang korupsi menjadi halal jika digunakan untuk kegiatan amal. Paradigma ini tentu saja akan menyuburkan korupsi di kalangan umat beragama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Perilaku korupsi muncul sebagai bentuk penyelewengan terhadap &lt;em&gt;amanah&lt;/em&gt;. Di dalam Al Qur’an Surat (QS) An Nisa 4; 58, disebutkan bahwa pemimpin mempunyai kewajiban untuk menyampaikan a&lt;em&gt;manah &lt;/em&gt;kepada yang berhak. Demikian pula dengan QS Al Anfal, 8; 27 disebutkan kepada umat Islam untuk tidak mengkhianati amanat. QS Al Baqarah 2;283 juga mengatur agar umat menyampaikan amanah publik untuk kemaslahatan umat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Penyelewengan terhadap amanah publik menjadi &lt;em&gt;jinayah kubro. &lt;/em&gt;Korupsi dikatagorikan sebagai &lt;em&gt;hirabah &lt;/em&gt;(perbuatan memerangi Allah dan Rosul) sebagaimana perbuatan &lt;em&gt;qathu ath Thariq&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;sariqah kubro&lt;/em&gt; (pencurian besar)&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; Korupsi dikatagorikan sebagai perbuatan melawan Allah dan menjadi dosa besar karena mengancam jiwa dan harta banyak orang, menimbulkan kerusakan di bumi serta dampak yang diakibatkan lebih massif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Islam sebagai agama &lt;em&gt;eskatologis, &lt;/em&gt;mengajarkan kepada semua umatnya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dalam QS Al Maidah,5;42, disebutkan bahwa memakan harta korupsi sama dengan memakan barang haram. Sanksinya secara sosial; dikucilkan dari masyarakat, serta kesaksiaannya tidak lagi diakui. Bahkan, seorang koruptor secara moral dalam etika Islam diharapkan dikenai sanksi sebagai orang yang tercela dan tidak disholatkan jenazahnya ketika mati&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Bagi umat Islam yang paling berat adalah sanksi terhadap pelaku korupsi di akhirat. Berdasarkan tafsir dan Fiqih, Korupsi dapat mencegah pelakunya masuk surga. Bahkan lebih dari itu, Korupsi dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Hal ini karena harta hasil korupsi termasuk &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;suht &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;(melincinkan kepentingan kolega). Harta korupsi juga akan membebani pelakunya di hari kiamat karena korupsi termasuk &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;ghulul &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;(khianat)&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Dengan melakukan pendekatan agama dan mengerti sanksi korupsi, bisa dimungkinkan niat untuk melakukan korupsi bisa berkurang. Soal sanksi, &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;wallohu alam bisshowab.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-3510102139258342125?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/3510102139258342125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=3510102139258342125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/3510102139258342125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/3510102139258342125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/03/menggusur-korupsi-dengan-tafsir-dan.html' title='Menggusur Korupsi dengan Tafsir dan Fiqih'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R84PArjKa4I/AAAAAAAAABA/v5yxQAmuN-Y/s72-c/koruptor2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-8603572596588970041</id><published>2008-03-04T12:05:00.001+07:00</published><updated>2008-11-13T17:00:11.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>HOW ‘HIP’ARE YOU?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R8zZl3I4CfI/AAAAAAAAAAw/TU9bOFs777Q/s1600-h/dziewczynaprzedlustrem1932them.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R8zZl3I4CfI/AAAAAAAAAAw/TU9bOFs777Q/s320/dziewczynaprzedlustrem1932them.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173749316421421554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Film dan Tempat Kita di Dunia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hip atau Cool adalah beberapa kosakata yang sering dipake untuk menyebut orang atau komunitas yang memiliki kriteria tertentu. Hip atau Cool dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan dengan keren,walaupun artinya tidak persis seperti itu. Apakah saat ini kita termasuk orang yang keren? Atau sebelum menjawab pertanyaan itu, sebenarnya seberapa penting sih menjadi keren bagi kita? &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Bagaimana kita bisa menjadi keren atau tidak keren? Apa saja ukurannya? Siapa yang menentukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Berdasarkan pengalaman pribadi saja, sepertinya menjadi keren mungkin memang penting bagi saya. Pengalaman yang akan saya ceritakan ini tidak terjadi satu-dua kali saja tetapi berulang kali dan bahkan pada saat-saat interaksi saya dengan diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Saya sangat suka film. Sejak SD atau bahkan sebelum itu, sudah terbiasa menonton film. Sampai saat ini, saya masih sangat suka menonton film, bahkan bisa dibilang tiada hari tanpa menonton film. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Film-film yang saya tonton berubah dari waktu ke waktu. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Bisa dibilang, makin dewasa film-film yang saya tonton makin ‘serius’ dari segi tema, penceritaan, sinematografi, dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Saya menjadi tidak suka lagi film-film yang saya anggap ‘ringan.’ Pada banyak kesempatan, ketika teman atau saudara saya mempromosikan satu film yang menurut dia bagus, saya menanggapinya dengan datar saja. Saya ini &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; penyuka film-film kelas festival film dunia, ‘masa film remaja gitu dibilang bagus!’ Kadang saya berkata demikian dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hal yang sama terjadi pada interaksi saya dengan diri saya sendiri ketika saya mengunjungi tempat-tempat persewaan film. Kadang saya sangat ini menyewa film yang ‘ringan’ saja supaya terhibur, tapi akhirnya &lt;i style=""&gt;I ended up&lt;/i&gt; menyewa film-film ‘serius’ tadi. “Who am I kidding?” begitu kata saya pada diri saya sendiri, kadang dengan nada bangga, kadang dengan nada kecewa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Akhirnya konsumsi memang masalah selera. Dan soal selera ini, saya punya pengalaman menarik yang lain. Saya meyakini bahwa selera itu dibentuk dan memang benar bahwa selera itu dibentuk. Masalahnya dibentuk oleh siapa? Masih berkaitan dengan film, saya meyakini bahwa selera saya akan film dibentuk dari kebiasaan saya menonton film sejak kecil, ketertarikan pada buku-buku, dan kesukaan berdiskusi. Dengan latar belakang seperti itulah saya saat ini menyukai film-film ‘serius’ yaitu film-film kelas festival dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Keyakinan seperti ini yang membuat saya kadang memandang orang lain yang suka menonton film-film ‘ringan’ sebagai “tidak punya selera” dan oleh karenanya berada pada komunitas yang berbeda dengan saya dalam konotasi yang mengandung sikap menganggap baik atau menganggap buruk orang lain?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Maka tiba-tiba ‘punya selera’ menjadi terminology untuk menyebut komunitas yang ‘elite.’ &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Dan dengan menjadi bagian dari komunitas yang ‘elite’ saya menjadi “keren.” Lalu siapa yang menentukan itu elite atau tidak elite? Keren atau tidak keren? Siapa yang memberi ukuran? Berhakkah saya kemudian ikut-ikutan menilai orang lain?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Masih berkaitan dengan film, festival dan penghargaan film adalah salah satu penentu keren atau tidak kerennya, bagus atau tidak bagusnya sebuah film. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sebagai suatu hal yang diterima secara internasional, kita setuju saja bahwa film pemenang Oscar atau pemenang Festival De Cannes adalah film yang baik. Terlepas dari bahwa diantara sekian penghargaan film tersebut mereka punya ukuran ke-‘keren’-an sendiri-sendiri, paling tidak penghargaan-penghargaan film tersebut telah berhasil menciptakan standarisasi tertentu yang dapat diterima. Lagi pertanyaannya, siapa yang membuat mereka, para juri dan penyelenggara festival, punya otoritas untuk menjadi standarisasi? Tidakkah standarisasi itu bisa didebat? Lalu jika standarisasinya saja masih diperdebatkan, bagaimana dengan penikmat film yang &lt;i style=""&gt;most of the time&lt;/i&gt; hanya mengkonsumsi dan menggantungkan status ke-‘keren’-an diri pada standarisasi keren dan tidak keren yang ‘dapat diterima’ itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Untuk menjawab pertanyaan ini, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; memiliki contoh yang menarik. Festival Film Indonesia (FFI) yang diakui menjadi standarisasi bagus tidaknya sebuah film. Sebagai sebuah standar, tentu saja penonton film pemenang FFI berada pada kelompok yang ‘somehow’ lebih keren, daripada mereka yang menonton film-film yang diputar pada acara &lt;i&gt;Bioskop Dewasa&lt;/i&gt; di salah satu stasiun TV itu. Namun, FFI 2006 membuktikan bahawa standarisasi bisa saja salah. Aksi penolakan sejumlah sineas terhadap hasil FFI 2006 mengawali babak baru perdebatan di kalangan masyarakat pembuat film dan masyarakat penikmat film di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Di tengah perdebatan ini, saya memihak siapa? Sebagai sekadar konsumen, saya memilih untuk memihak Riri Reza dan kawan-kawan yang menolak hasil FFI. Mengapa? &lt;i style=""&gt;Simply,&lt;/i&gt; because saya lebih suka karya-karya mereka daripada karya yang menang FFI. “I mean, &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt; jadi juara? Yang bener aja! Mereka itu &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; penjiplak, ceritanya tidak mengakar, mengada-ada, tidak memiliki kedalaman nilai-nilai humanity sama sekali” begitu saya berargumentasi. &lt;i style=""&gt;Lho&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;again&lt;/i&gt;, pertanyaan yang sama muncul, siapa sih yang berhak menentukan sesuatu itu punya nilai atau tidak punya nilai? Pada kondisi di mana sebuah standar sudah tidak lagi punya kekuatan atau sudah ‘tidak dapat diterima’ kita menjadi otonom. Otonom untuk menerima atau menolak, otonom untuk memilih. Memilih di antara sebaran luas makna-makna dan simbol-simbol yang siap dikonsumsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Pada pengalaman saya ternyata ketika saya pada posisi otonom, nyatanya saya tidak sepenuhnya otonom. Pilihan saya tetap dipengaruhi oleh standar-standar di atas standar festival, misalnya standar kedalaman nilai kemanusiaan yang terekam dalam tema-tema film dan lain sebagainya. Standar kedalaman nilai kemanusiaan itu kemudian ditentukan oleh wacana intelektual yang sedang dominan dan bisa diterima. Sebenarnya masih banyak yang bisa lebih jauh diperdebatkan, misalnya di luar dominasi wacana yang membentuk standar-standar ke-‘keren’-an, adakah standar kebagusan yang bisa diterima universal? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Atau sebenarnya karya yang seperti apa yang benar-benar bisa dibilang baik? Namun perdebatan ini belum akan kita kupas saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Akhirnya kita melihat bahwa memilih film, keberpihakan terhadap sikap kelompok film tertentu adalah bagian dari tindakan konsumsi kita. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Dan pada konsumsi kita membentuk identitas dan menceburkan diri pada tatanan masyarakat tertentu. Dengan mengkonsumsi kita menentukan tempat kita di dunia. Pada kasus film yang kita bahas ini, maka menonton film tertentu memberi kita tempat pada suatu masyarakat dan sekaligus memberi kita ruang untuk membentuk masyarakat tersebut. Masyarakat yang ‘keren’ dengan segala kriterianya menurut kita sendiri. Masyarakat ‘utopis’ yang kita bentuk melalui konsumsi film kita. Mengapa menceburkan diri dalam suatu masyarakat atau membentuk masyarakat itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Jawabannya adalah karena sebenarnya kita hanya ingin punya tempat. Maka menjawab pertanyaan di atas tentang seberapa penting untuk menjadi keren? Jawabannya adalah tidak penting. Yang penting adalah punya tempat. Perkara tempat itu memberi implikasi citra keren atau tidak keren nyatanya tidak terlalu penting karena itu hanyalah persoalan siapa yang berkuasa dan mendominasi wacana dan trend saat ini saja, sedangkan kebanyakan kita toh hanya mengkonsumsi, hanya bermain-main dengan, atau bahkan dimainkan oleh kelompok yang sedang dominan. *** Sakdiyah Ma’ruf (Jum’at, 28 Februari 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Perdebatan selanjutnya: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Ketika mengkonsumsi kita otonom atau malah terjajah? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Sejauh mana proses negosiasi terjadi antara keinginan, hasrat, dan serbuan pilihan-pilihan item konsumsi baru?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Arial;"&gt;Lalu bagaimana mengkontekstualisasikan ide-ide ini ke kondisi sosial yang lebih luas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-8603572596588970041?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/8603572596588970041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=8603572596588970041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/8603572596588970041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/8603572596588970041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/03/how-hipare-you.html' title='HOW ‘HIP’ARE YOU?'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jTDK8q0GhAE/R8zZl3I4CfI/AAAAAAAAAAw/TU9bOFs777Q/s72-c/dziewczynaprzedlustrem1932them.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-7700695354237671532</id><published>2008-02-28T20:28:00.001+07:00</published><updated>2008-04-28T17:25:52.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Intelektual Muslim dan Liberalisme Islam</title><content type='html'>&lt;h3 class="entry-header"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;               &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Intelektual muslim sebagai &lt;/span&gt;&lt;em style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;high social class&lt;/em&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; adalah masinis dalam gerbong “perubahan”. Mereka tidak lain adalah golongan dengan pemikiran terbuka yang tanggap terhadap perubahan. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tesis tentang peranan intelektual tidak bisa lepas dari pemikiran Francis Bacon (1561-1626) melalui slogan “knowledge is power” atau dari Michel Foucault (1926-1985) dengan slogan yang sebaliknya “power is knowledge.” Diantara keduanya terdapat perbedaan dalam menanggapi relasi antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan dimana di antara keduanya terjadi kompleksitas .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kompleksitas antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan terjadi juga dalam intelektual Islam. Meminjam pemikiran Yudi Latif dalam bukunya, The Muslim Intelegensia of Indonesia: A Genealogy of Its Emergence in the 20th century, latif secara proleptik mengatakan, perjuangan kultural intelegensia Muslim bisa jadi tak diorientasikan semata-mata demi kebenaran atau tujuan keagamaan, tetapi juga demi kepentingan kuasa. Namun yang patut dicatat di sini adalah adanya perkembangan wacana liberalisme Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;strong&gt;Intelektual Islam dan Tanggungjawab Sejarah&lt;/strong&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejarah telah membuktikan peran Intelektual muslim—khususnya di Indonesia—sebagai aktor yang memegang peran besar dalam drama sejarah. Hal ini dapat dilihat dari munculnya generasi pertama intelektual muslim di Indonesia yang diwakili oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Agus Salim. Tjokro dan Salim dengan pemikiran sosialisme islam, pada masa kolonialisme Belanda menjadi katarsis pemikiran nasionalisme Indonesia dalam melawan penjajahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salim dan Tjokro yang mendapatkan pendidikan barat dari sekolah misionaris Kristen dibujuk untuk patuh dan taat pada politik asosiasi Belanda. Terjadi perdebatan pemikiran di dalam diri keduanya dan mereka menyadari harus ada peremajaan Islam agar islam dapat bertahan. Keduanya kemudian menyatakan bahwa intelektual Muslim berada dan bergulat karena hendak berdialog dengan zamannya (saat itu, ide kemadjoean), dan persis di situlah Islam harus pula diremajakan (tanpa harus melepas prinsip dasarnya). Mereka kemudian mengajarkan Islam melalui aktivitas publik mereka di Sarekat Islam. Dalam perkembangannya, Islam kemudian diajarkan di Sekolah-sekolah seperti dilakukan oleh Muhamadiyah maupun NU. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Generasi kedua Intelektual Muslim muncul pada tahun 1950-an yang diwakili oleh M. Natsir, M. Roem dan K. Singodimedjo. Perdebatan konsepsi tentang “ke-Indonesiaan”—yang melahirkan piagam Jakarta—pasca proklamasi melahirkan inteletual muslim yang sadar akan nasionalisme Indonesia. Tanpa kesadaran akan nasionalisme Indonesia, negara kesatuan Indonesia yang dicita-citakan tidak akan terwujud karena terkotak oleh sekat agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika pada dua periode sebelumnya intelektual muslim didominasi oleh golongan tua, pada periode ke tiga, intelektual muslim diambil alih oleh generasi muda. hal ini terjadi karena intelektual muda muncul dari pendidikan yang sudah dikelola oleh negara Indonesia. Generasi Ketiga diwakili oleh Lafran Pane, A Tirtosudiro dan Jusdi Ghazali pada 1960-an yang merupakan didikan dari generasi kedua intelektual muslim Indonesia seperti dilakukan Natsir melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang didirikannya pada tahun 1967. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Periode generasi ketiga ditandai dengan munculnya organisasi kaum muda dan mahasiswa Islam. Sebagai contoh adalah Lafran Pane yang mendirikan HMI, ataupun Mahbub Djunaidi yang mendirikan IPNU/PMII. Munculnya organisasi mahasiswa dan pemuda yang berbasic islam melahirkan kader muslim yang dilatih menjadi pemimpin gerakan dakwah dan masjid kampus dan menjadi generasi ke empat intelektual muslim yang diwakili oleh Nurcholish Majid, Djohan Efendi, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib dimana pada masa generasi ini, pemikiran tentang keislaman berkembang pesat. Namun, hanya generasi ini memunculkan intelektual dari kalangan mahasiswa karena generasi berikutnya banyak di dominasi oleh campur tangan negara seperti ICMI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;strong&gt;Intelektual Muslim dalam Pusaran Kekuasaan&lt;/strong&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dari sejarah intelektual Islam dapat diketahui, golongan ini mempunyai andil besar dalam proses perubahan. Namun kompleksitas antara ilmu dan kekuasaan menjadi problem sistemik yang menggerogoti perjalanan intelektual. Julian Benda dalam bukunya The Betrayal of Intelectual mengatakan “la trahison de la clerks,” terhadap intelektual yang berselingkuh dengan dengan kekuasaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Intelektual muslim pada masa tahun 1970-an terseret dalam arus pusaran kekuasaan. Hal ini tidak lain dari upaya penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya dengan melibatkan intelektual—termasuk intelektual muslim—di dalam kekuasaannya. Masa konsolidasi pemerintahan orde baru Islam bisa merembes masuk ke dalam kekuasaan karena pada masa ini berkembang aktivitas di masjid-masjid kampus negeri. Selain itu juga ada proses saling mendekat (rapprochement) dengan para birokrat sehingga embrio blok dalam kaum intelegensia Muslim pun tumbuh di tubuh tambun Orde Baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Gerakan intelektual muslim yang terorganisir dalam gerakan pemuda dan mahasiswa Islam kemudian lebih diarahkan untuk kepentingan politik. Loby-loby dan usaha untuk memperluas relasi kekuasaan justru semakin mengemuka. Kegiatan dukung mendukung digunakan untuk legitimasi atas kekuasaan dan bahkan Islam kemudian digunakan kepentingan politik. Golongan intelektual muslim yang tidak mau tenggelam dalam pusaran kekuasaan kemudian lebih menyibukkan diri mereka dengan melakukan kajian-kajian keislaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nurkholis Madjid pada tahun 1970 selepas studinya di Amerika melihat perkembangan yang terjadi di kalangan intelektual Islam kemudian mengenalkan semboyan “Islam Yes, Partai Islam... no”! dengan pemikirannya ini, Alm Cak Nur—biasa Nurcholis Madjid di panggil—menjadi tokoh pembaharu Islam dengan sikapnya yang moderat dan mendukung sekularisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perselingkuhan antara intelektual muslim dengan kekuasaan terlihat jelas dalam tubuh ICMI. Bahkan saat itu berkembang paradigma ijo-royo-royo (hijau banget) di kalangan birokrat negara. Intelektual muslim yang tergabung dalam ICMI kemudian Islam sebagai cantolan ideologi dan kunci untuk membuka pintu kekuasaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aksi ini kemudian ditentang oleh golongan yang dimotori Abdurrachman Wahib (Gus Dur) melalui gerakan Pro Demokrasi. Gus Dur bahkan memompa memompa generasi muda NU dengan matriks liberal, yang siap melakukan vermak atas baju Islam dan kritik atas tradisinya sendiri. Arus inilah yang pada akhirnya melahirkan generasi intelektual kontemporer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;strong&gt;Quo Vadis Intelektual Muslim&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Tenggelamnya intelektual muda Islam dalam pusaran kekuasaan dan kepentingan politik hingga saat ini masih terjadi. Hal ini karena tidak berubahnya konsep politik Patron-Client. Golongan intelektual muda muslim yang berkembang di kampus-kampus di Indonesia masih sangat menjunjung patronase. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Perdebatan yang mengemuka adalah persoalan tentang kepemimpinan dan harakah yang paling berpengaruh, ialah harakah yang dipengaruhi Ikhwanul Muslimin, yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan partai politiknya, Partai Keadilan Sejahteran (PKS) (Yudi Latif: 2005). Hal tersebut terjadi karena adanya hubungan simbiose mutualisme, patron menggunakan massa di bawah untuk legitimasi kekuasaan sedangkan client menganggapnya sebagai jalur cepat untuk berkuasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Wacana ini tidak dibarengi dengan counter wacana tentang pemikiran islam. Akibatnya, intelektual muda islam yang saat ini terbaca adalah intelektual yang berafiliasi untuk kepentingan politik. Golongan ini semakin menggurita dengan memasuki wilayah internal kampus melalui lembaga syiar islam ataupun dewan dakwah kampus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hubungan patronase ini juga mengakibatkan adanya pemahaman terhadap islam yang bersifat konservatif sesuai dengan apa yang diartikan oleh pimpinan mereka. Semangat jiwa jaman tidak mampu mempengaruhi dan mengubah pemahaman golongan ini dalam mengartikan Islam. Cara berfikir ini menurut Amien Rais ataupun Gus Dur sangatlah tidak tepat. Menurut mereka baju islam sangat sempit sehingga baju Islam harus dikaitkan dan dijahitkan secara kreatif dengan diskursus di luar dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diskursus inilah yang kemudian banyak dipakai oleh intelektual muda islam dari kalangan NU (tergabung dalam JIL) dan Muhammadiyah (tergabung dalam JIMM). Mereka menagalami proses liberalisasi dalam tingkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan mereka berkolaborasi dengan intelektual muda dari latar yang berbeda. Golongan ini terbuka terhadap kondisi global postmodern menjadi lebih mendalam apresiasiatif terhadap nilai-nilai liberal dan sekuler Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span lang="IN"&gt;Namun, pertarungan antara golongan liberal dengan lawannya tidak homogen. Hal ini terjadi karena rivalitas para pengikutnya baru sebatas masalah manhaj (metode penalaran). Namun yang pasti sampai kapan perbedaan pendapat di kalangan intelektual muda Islam ini akan berakhir? Akan dibawa ke arah mana perkembangan permikiran Islam di masa mendatang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-7700695354237671532?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/7700695354237671532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=7700695354237671532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7700695354237671532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/7700695354237671532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/02/intelektual-muslim-dan-liberalisme.html' title='Intelektual Muslim dan Liberalisme Islam'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-5573975029076259453</id><published>2008-02-28T19:40:00.001+07:00</published><updated>2008-04-28T17:25:27.415+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kebudayaan'/><title type='text'>Strategi Kebudayaan dalam Terpaan Globalisasi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;a onclick="window.open(this.href, '_blank', 'width=104,height=148,scrollbars=no,resizable=no,toolbar=no,directories=no,location=no,menubar=no,status=no,left=0,top=0'); return false" href="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/gombalisasi.jpg"&gt;&lt;img src="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/my_blog/images/gombalisasi.jpg" title="Gombalisasi" alt="Gombalisasi" style="margin: 0px 5px 5px 0px; float: left;" border="0" height="142" width="100" /&gt;&lt;/a&gt; Globalisasi adalah sebuah keniscayaan sejarah. Siap atau tidak, semua negara di dunia akan menghadapinya. Di saat iklim kompetisi terbuka lebar, membangun ketahanan mutlak diperlukan. Strategi kebudayaan bisa dijadikan benteng, jika tidak ingin luluh lantak diterjang badai globalisasi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Orasi Dawam Rahardjo, Kamis (26/7) di Institute Global Justice setidaknya menyadarkan kita untuk membangun strategi kebudayaan dalam persaingan global. Menurut Dawam, Indonesia harus mempunyai strategi kebudayaan agar mampu bersaing dalam era globalisasi. Indonesia sebenarnya mempunyai asset yang luar biasa. Sebagai negara yang plural dalam kebudayaan, Indonesia seharusnya menjadi negara yang besar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Dalam orasinya, Dawam mengatakan bahwa strategi kebudayaan harus dibangun dengan melihat kekuatan dan kelemahan sumber daya yang dimiliki bangsa Indonesia. Pembangunan harus dilaksanakan namun tanpa melupakan pembangunan karakter bangsa. &lt;em&gt;Caracter building&lt;/em&gt; menjadi pekerjaan rumah yang wajib dilakukan pemerintah agar negara ini mampu bersaing dengan negara lain. Pemerintah saat ini hanya mengedepankan pembangunan fisik tanpa mengindahkan pembangunan kebudayaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Pemerintah dalam hal ini seharusnya mengambil peran dalam perumusan strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan dapat diarahkan melalui &lt;em&gt;political culture and national identity&lt;/em&gt; (Politik Kebudayaan dan Identitas Nasional). Melalui &lt;em&gt;political culture&lt;/em&gt;, arah strategi kebudayaan dapat digunakan sebagai kekuatan untuk bertahan dari serbuan kebudayaan asing. &lt;em&gt;Political culture&lt;/em&gt; akan mampu didorong untuk menciptakan &lt;em&gt;national identity&lt;/em&gt; sebagai nilai yang dijadikan patokan dalam persaingan global. Bahkan, &lt;em&gt;national identity&lt;/em&gt;, bisa dijadikan &lt;em&gt;trade mark&lt;/em&gt; untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Bicara &lt;em&gt;political culture and national identity&lt;/em&gt; bangsa Indonesia dapat belajar dari sejarah Soekarno. Pada tahun 1960-an, Soekarno dengan lantang menyatakan Kebudayaan sebagai salah satu alat dalam perjuangan revolusi Indonesia (Manipol USDEK). &lt;/span&gt;&lt;span style="" arial="" narrow="" lang="IN"&gt;Kebudayaan Indonesia harus menjadi kebudayan yang bersifat “ofensif revolusioner” dan menjadi alat revolusi dalam melawan imperialisme kebudayaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Politik kebudayaan pada masa itu dibangun untuk melawan serbuan kebudayaan asing yang dianggap merusak kebudayaan nasional. Maka, Soekarno saat itu kemudian melarang lagu &lt;em&gt;rock and roll, ngak-ngik-ngok ala Beatles, dansa-dansi, rok span, rambut sasak, film Amerika &lt;/em&gt;dll. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Menurut Soekarno, kebudayaan asing tersebut menciptakan &lt;em&gt;cross boy-cross girl &lt;/em&gt;yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Budaya asing terbukti memberikan efek negatif berupa perilaku kriminal, semacam pemerkosaan, perampokan dll. Untuk membendungnya, Soekarno memerintahkan rakyat untuk membangun dan memberdayakan kebudayaan nasional yang dibangun dari kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah yang dibangun dengan &lt;em&gt;local genius&lt;/em&gt; masyarakat dianggap cocok dan mampu menjadi benteng hegemoni budaya asing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Pemerintah saat ini seharusnya belajar dari pengalaman sejarah. Kebudayaan terbukti menjadi alat yang ampuh dalam konstelasi persaingan di dunia. Namun, pemerintah saat ini terbukti menganak-tirikan &lt;em&gt;political culture&lt;/em&gt;. Karena jaman sudah berubah, political culture saat ini tidak perlu se-agresif masa revolusi. Namun, tetap saja pemerintah harus mempunyai arah strategi kebudayaan yang jelas. Melindungi kebudayaan daerah dan memberdayakannya untuk kepentingan pembangunan negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Sebagai contoh &lt;em&gt;political culture&lt;/em&gt; bisa dilaksanakan dengan menjadikan asset-asset kebudayaan sebagai promosi wisata untuk memperkenalkan Indonesia. Promosi ini tidak saja akan mengenalkan Indonesia ke dunia internasional. Lebih dari itu, Indonesia akan memetik keuntungan dengan masuknya &lt;em&gt;fulus&lt;/em&gt; dari kantong wisatawan asing yang berkunjung untuk menikmati kebudayaan Indonesia. &lt;em&gt;Political culture&lt;/em&gt; seharusnya dikemas selaras dengan kepentingan pembangunan bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Poemerintah Indonesia nampaknya belum mengarahkan &lt;em&gt;political culture&lt;/em&gt; dengan baik. Terbukti, Baru-baru ini kita cukup dikejutkan dengan polling sebuah lembaga perjalanan wisata internasional. Borobudur yang diakui UNESCO sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia tidak masuk dalam nominasi. Hal ini bisa dikatakan, upaya pemerintah untuk mengenalkan assetnya tidak dilakukan dengan serius. Padahal, Borobudur dengan kesenian masyarakat local menjadi asset yang berharga untuk memperkenalkan Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Kondisi ini diperparah dengan stabilitas keamanan di Indonesia yang tidak jelas. Isu terorisme menjadi momok yang menyeramkan bagi dunia internasional. &lt;em&gt;Travel warning&lt;/em&gt; dikeluarkan untuk mencegah warga asing datang ke Indonesia karena dianggap sebagai sarang teroris yang berbahaya. Akibatnya, Indonesia bukan dikenal sebagai negara yang aman untuk dikunjungi sehingga jumlah kunjungan wisata semakin menurun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Pemerintah seharusnya kreatif memanfaatkan kebudayaan untuk kepentingan nasional. &lt;em&gt;National identity&lt;/em&gt; diperlukan untuk memperkenalkan Indonesia. Jika Arab terkenal dengan tari perutnya, Brazil dikenal dengan musik tangonya, Indonesia seharusya dikenal dengan asset kebudayaan local yang ada di dalamnya. Kita perlu belajar dari festival Rio De Jeneiro, Festival Adu Banteng yang mendatangkan keuntungan besar. Indonesia mempunyai banyak agenda kebudayaan yang sebenarnya tidak kalah dengan fesitival tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="" arial="" narrow=""&gt;Pemerintah Indonesia agar tetap bertahan perlu menyusun strategi kebudayaan dengan menjalankan Politik kebudayaan untuk menciptakan identitas nasional. Yang pasti, dengan &lt;em&gt;political culture and national indentity&lt;/em&gt;, bangsa Indonesia akan mampu bersaing dengan bangsa lain di dunia. Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia ini harus giat memperkenalkannya jika tidak ingin kita dihempas badai globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-5573975029076259453?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/5573975029076259453/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=5573975029076259453' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/5573975029076259453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/5573975029076259453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/02/strategi-kebudayaan-dalam-terpaan.html' title='Strategi Kebudayaan dalam Terpaan Globalisasi'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4331299621413429766.post-3386705784430499366</id><published>2008-02-28T19:13:00.001+07:00</published><updated>2008-04-28T17:24:11.482+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Permainan Hidup</title><content type='html'>&lt;h3 class="entry-header"&gt;Permainan Hidup &lt;/h3&gt;      &lt;div class="entry-content"&gt;    &lt;div class="entry-body"&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/heaven.jpg" onclick="window.open(this.href, '_blank', 'width=79,height=117,scrollbars=no,resizable=no,toolbar=no,directories=no,location=no,menubar=no,status=no,left=0,top=0'); return false"&gt;&lt;img alt="Heaven" title="Heaven" src="http://dwiarissubakti.blogs.friendster.com/my_blog/images/heaven.jpg" style="margin: 0px 5px 5px 0px; float: left; width: 122px; height: 158px;" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Hidup tak ubahnya sebuah permainan.  Ia memaksa siapapun yang terlempar ke dalamnya untuk mengikuti permainan.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka harus ikut bermain hingga peran yang harus dimainkannya berakhir. Dalam permainan bernama “Hidup” setiap invidu mempunyai mempunyai peran masing-masing. Seperti syair lagu Nicky Astri Panggung Sandiwara bahwa “setiap insan punya satu peranan yang harus dimainkan.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Permainan bernama “Hidup” begitu komplek. Ada banyak cerita dan peran yang harus dimainkan oleh masing-masing individu. Permainan individu ini, satu sama lain terhubung dalam “Permainan” yang lebih besar bernama “Kehidupan”. Dalam Kehidupan ada aturan-aturan yang musti ditaati. Jika tidak percaya, coba saja baca novel "Match Made in Heaven" karya Bob Mitchell yang diterbitkan oleh Penerbit Ufuk &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam buku tersebut digambarkan seorang individu bernama Eliot Goodman. Eliot terserang penyakit jantung yang hamper saja menyeretnya ke akhir permaianan. Ia hamper saja game over. Namun, Tuhan memberi kesempatan kepada Eliot untuk berperan dalam permainan dengan syarat, Eliot harus mampu mengalahkan Tuhan dalam permainan Golf delapanbelas lubang. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Yang menarik, Tuhan tidak turun tangan sendiri dalam permainan tersebut. Ia mewakilkannya kepada Leonardo da Vinci, William, Claude Dukenfield, Musa, John Lennon, Sigmund Freud, Edgar Allan Poe, Socrates, Pablo Picasso, Abraham Lincoln, Ludwig Von Beethoven, William Shakespeare, George Herman Ruth Jr., Christoforus Colombus, Mahatma Gandhi dan William Benjamin Hogan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam setiap tahapan, Eliot tidak saja bermain Golf ansich. Eliot bermain tentang filosofi kehidupan yang diperoleh dari interaksi Elliot dengan musuh-musuhnya. Setiap musuh memberi Elliot refleksi berupa pandangan baru untuk bekal melanjutkan hidup. Dari Colombus, Eliot belajar tentang: "History knows of no man who ever like did the like". Hanya mereka yang benar-benar berbeda dan sadar akan keberbedaannya, akan tercatat dalam sejarah. Sisanya, yang terjebak dalam kerumunan, akan hilang seiring usainya `permainan' hidup mereka.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Karena hidup tak lebih dari permaianan, bermainlah dengan baik. Berperanlah sebagai pemain yang handal untuk memenangkan permainan. karena kita hanya satu pemain dari jutaan pemain lain. Sama seperti Tuhan mengajari Eliot untuk bermain dengan cantik demi kehidupannya.. &lt;/p&gt;      &lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 class="entry-header"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/LPSN/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4331299621413429766-3386705784430499366?l=solosociety.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://solosociety.blogspot.com/feeds/3386705784430499366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4331299621413429766&amp;postID=3386705784430499366' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/3386705784430499366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4331299621413429766/posts/default/3386705784430499366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://solosociety.blogspot.com/2008/02/permainan-hidup.html' title='Permainan Hidup'/><author><name>bedug</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13798213332330189541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
